Lowokwaru-Surya-Upaya Pemkot Malang menawarkan Pasar Blimbing dan Pasar Dinoyo ke investor akhirnya membuahkan hasil. Saat ini, sudah ada 10 investor yang meminati kedua aset pemkot itu.

Menurut Ketua Panitia Lelang, Dr Ir Drs Jarot Edi Sulistyanto MSi, lelang kedua aset itu ke investor berbeda dengan lelang proyek ke kontraktor. Pada lelang Pasar Dinoyo maupun Blimbing yang diperhatikan panitia terhadap investor meliputi kemampuan finansial, kemampuan mengelola bangunan hingga 30 tahun ke depan, dan bagaimana rancang bangunnya.

Diungkapkan Jarot, rancang bangun pasar diserahkan ke investor. Meski begitu, pantia sudah memiliki patokan yaitu Pasar Blimbing merupakan kolaborasi pasar tradisional, pasar modern, dan posmodern. Dalam konsep ini, investor dapat menempatkan pasar tradisional di lantai dasar, pasar modern di atasnya, dan paling atas dapat dibangun apartemen.

Sedang pasar Dinoyo yang lahannya lebih sempit, Jarot hanya mengisyaratkan untuk pasar tradisional dan modern.
”Lahan Pasar Blimbing lebih luas dan aksebilitasnya lebih gampang, sehingga konsepnya pas apabila dibangun juga apartemen. Kendati begitu, apabila investor ingin membangun Pasar Dinoyo ada apartemennya tidak soal karena konsep pembangunan kami adalah terbuka,” jelas Jarot kepada Surya, Jumat (25/12).
Dikatakan Jarot, prakulifikasi lelang sudah dilakukan. Saat ini proses lelang kedua pasar itu sudah sampai tahap penjelasan pekerjaan. ”Setelah penjelasan pekerjaan rampung, tahap berikutnya investor mengajukan proposal ke panitia lelang,” papar Jarot.
Informasinya, Pemkot Malang sebenarnya telah menawarkan pembangunan kedua pasar itu kepada investor sejak belasan tahun lalu. Namun, selama ini tak ada yang berminat. Kalaupun ada yang berminat, investor itu tiba-tiba mundur tanpa alasan yang jelas.ekn

Sumber : http://www.surya.co.id/2009/12/26/10-investor-bidik-pasar-blimbing.html
Makassar (ANTARA News) - Menjelang akhir tahun 2009, para pedagang yang menjual kebutuhan rumah tangga memperbanyak stok, karena memprediksi tingkat pembelian akan meningkat dibanding kondisi biasa.


"Kami menambah persediaan mi basah atau mi dalam kemasan, karena biasanya banyak dibutuhkan untuk acara malam tahun baru," kata salah seorang pedang H Rahman di Pasar Terong, Makassar, Sabtu.

Menurut dia, selain memperbanyak stok, juga memperbanyak stok bakso yang dijual dalam kemasan Rp25 ribu hingga Rp75 ribu, karena kedua jenis konsumsi ini banyak dicari pada sebelum malam pergantian tahun.

Hal senada dikemukakan pedagang jagung dan ubi kayu di Pasar Pannampu, Makassar, Sulaeman.

Dia mengatakan, kalau pada hari biasa hanya membeli empat keranjang ubi kayu per hari, maka sehari sebelum malam pergantian tahun, sudah mempersiapkan stok dua kali lipat dari biasanya, begitu pula untuk jagung manis.

"Kami sudah memesan kepada "pagandeng" (distributor) langganan kami untuk membawa stok dua kali lipat nanti," katanya.

Menanggapi kemungkinan harga sejumlah kebutuhan konsumsi menjelang malam pergantian tahun, seperti mie, bakso, sayur sawi, jagung dan ubi kayu, umumnya pedagang yang menjual barang tersebut memprediksi akan naik.

"Meskipun kebutuhan meningkat, tapi kami akan berusaha agar harganya bisa tetap. Namun bila distributor menaikkan harga, ya kami juga terpaksa menyesuaikan harga," kata H Rahman.

Sementara Sulaeman mengatakan, untuk harga jagung satu ikat isi 25 buah biasanya dijual Rp25 ribu, namun bercermin pada tahun sebelumnya, pada saat menjelang malam pergantian tahun, harga jagung per ikat naik Rp5 ribu - Rp10 ribu per ikat.

(T.S036/S016)

SUMBER : http://antara-sulawesiselatan.com/beranda/36-news-economic/12216-jelang-akhir-tahun-pedagang-perbanyak-stok.html
Gunungkidul, CyberNews. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), akan mengembangkan pasar sehat pada 2010. Untuk itu, pemerintah daerah akan membentuk tim penilaian pasar tradisional yang ada di daerah ini.

"Keadaan pasar tradisional di Gunungkidul cukup memprihatinkan, kesan kotor dan tidak aman sudah menjadi pandangan umum. Kami akan membuat pedoman pengembangan pasar tradisional sehat di Gunungkidul agar keberadaan pasar tradisional lebih memiliki daya saing," kata Kepala Kantor Pengelola Pasar Gunungkidul Sujarwo di Wonosari, Sabtu (26/12).

Sujarwo mengatakan, pihaknya perlu mengeluarkan pedoman mengelola pasar tradisional yang baik, yakni memperhatikan lingkungan sosial ekonomi sekitarnya, menunjang kesehatan bagi pedagang dan pengunjung, kenyamanan pengunjung, daya saing harga, serta penataan pedagang agar terlihat lebih elegan.

"Pengelolaan pasar tradisional harus dikemas secara modern dan profesional sehingga mampu bersaing dengan toko swalayan dan supermarket. Pengembangan pasar tradisional itu diharapkan mampu memikat banyak warga untuk berbelanja dan mengunjungi pasar tradisional," katanya.

Bagi produsen, kata dia, dalam hal ini petani dan nelayan, pasar sehat dapat meningkatkan kualitas dan nilai jual produk, sedangkan bagi pedagang, pasar sehat dapat meningkatkan penjualan, meningkatnya kualitas produk, serta terciptanya lingkungan kerja yang lebih sehat pula.

Menurut dia, keuntungan pasar sehat ini dapat pula dinikmati pemerintah daerah, yakni dengan menurunnya penyakit yang disebabkan oleh pangan, meningkatnya status gizi masyarakat, menurunnya biaya perawatan kesehatan, dan pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan daerah.

Pemerintah daerah, lanjutnya, tidak perlu terlalu membatasi keberadaan swalayan, namun yang harus dilakukan adalah mengembangkan keberadaan pasar tradisional agar mampu bersaing dengan pasar modern tersebut.

( Ant / CN16 )
Sumber : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2009/12/26/42942/Pemkab-Gunungkidul-Akan-Kembangkan-Pasar-Sehat
Lihat catatan lainnya