
MAJALAH DINDING TEMPO DOELOE
Bung Karno 'Don Juan' yang Mahir Mencinta
Kecantikan perempuan adalah besi berani yang tak pernah berhenti memikat Sukarno hingga masa senja hidupnya.
Kertas putih itu mulai buram dimakan waktu. Tapi tulisan di atasnya?dalam huruf-huruf sambung yang indah?masih jelas terbaca: "Dear Dik Heldy. I am sending you some dollar...s, Miss Dior, Diorissimo, Diorama. Of course, also my love.Mas"
Surat pendek yang menyertai kiriman uang dan beberapa botol parfum itu dikirim Sukarno dari tempat penahanannya di Wisma Yaso, Jakarta, kepada Heldy Djafar. Sukarno menikahi istri terakhirnya itu setahun sebelum kejatuhannya.
Sukarno meminang Heldy?yang sekarang tampak masih menawan di umur 54 tahun?tatkala ia masih gadis ranum yang mekar pada usia 18 tahun. Perjumpaan pertama mereka terjadi tatkala Heldy menjadi anggota Barisan Bhinneka Tunggal Ika yang menyambut kedatangan Tim Piala Thomas, pada 1964.
Setahun kemudian, Bung Karno mengajaknya berdansa dalam sebuah acara di Istora Senayan. "Waktu itu Bapak bertanya,'Kamu kok lama enggak kelihatan. Sombong ya, pacaran saja.'Saya gugup dan menjawab:'Saya enggak pacaran, Pak'," tutur Heldy kepada TEMPO.
Enam bulan kemudian, pengantin dan mempelai yang berbeda usia 48 tahun itu menikah di Jakarta pada 11 Mei 1966. Perkawinan itu cuma berusia dua tahun. Heldy kian sulit bertemu suaminya tatkala Bung Karno masuk tahanan di Wisma Yaso.
Heldy?yang dikenal sebagai ibu Maya Ari Sigit Soeharto?menjanda dalam usia amat muda. Perkawinan ini memang tak banyak diketahui orang. Dan Heldy tentu saja cuma salah satu dari sederet istri yang pernah dinikahi dengan resmi. Dari Utari Tjokroaminoto, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Yurike Sanger, Haryati, Kartini Manoppo, Ratna Sari Dewi, hingga Heldy Djafar.
Beberapa perkawinan Sukarno berakhir dengan perceraian. Tapi ada pula istri yang tetap mempertahankan perkawinan mereka hingga hari meninggalnya Sukarno, antara lain Hartini dan Ratna Sari Dewi. Dari sembilan wanita ini, adalah Fatmawati?yang memberi Sukarno lima anak?yang mendampingi Sukarno sebagai ibu negara, first lady Indonesia yang pertama.
Pertautan Sukarno dengan wanita berawal pada usia amat belia. Ia sudah kesengsem pada noni-noni Belanda pada umur 14 tahun. "Hanya inilah satu-satunya jalan yang kuketahui untuk memperoleh keunggulan terhadap bangsa kulit putih," ujar Sukarno kepada Cindy Adams dalam biografinya, Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
Mien Hessels adalah salah satu gadis Belanda?teman sekolah Sukarno?yang sempat membuat remaja Sukarno tergila-gila. Ia nekat mendatangi orang tua Hessels dan mencoba peruntungannya?untuk hanya disambut dengan semburan kasar: "Kamu inlander kotor. Kenapa kamu berani-beranian mendekati anakku? Keluar!" ujar Tuan Hessels. Pengalaman ini tak membuatnya jera menjerat hati perempuan. "Tuhan menciptakan wanita penuh dengan keindahan. Saya kira setiap laki-laki normal senang melihat keindahan yang ada pada diri wanita," Bambang Widjanarko mengutip ucapan Sukarno ini dalam bukunya,
Sewindu Dekat Bung Karno. Maka, muncullah daftar panjang nama wanita dalam hidup Sukarno. Dari Inggit Garnasih, yang lebih tua 12 tahun, Fatmawati, Hartini, Haryati, Ratna Sari Dewi, Yurike Sanger, hingga Heldy Djafar.
Bahkan Putri Monique, istri bekas Raja Kamboja Norodom Sihanouk, pun sempat menggetarkan hati Sukarno: "Monique, tanpa sadar, telah mempesona Sukarno dan menimbulkan api di dalam hatinya yang mudah terbakar," ujar Sihanouk dalam buku Norodom Sihanouk Pemimpin Dunia yang Saya Kenal. Kendati mengaku "iri" dan menjuluki rekannya sebagai don juan, Sihanouk menganggap Sukarno sebagai seorang laki-laki sopan yang sempurna karena tak pernah berusaha menaklukkan satu pun wanita Kamboja "secara nyata"?betapapun cantiknya.
Tapi, di Indonesia, lain ceritanya. Kemahiran Sukarno memikat wanita tak kalah populer dengan kisah-kisah tentang figurnya sebagai pemimpin. Sukarno tampaknya tidak membeda-bedakan usia ataupun latar belakang seorang wanita. Heldy dan Yurike, misalnya, ia nikahi pada usia 18 tahun. Fatmawati dipetik Sukarno pada usia 20 tahun. Tapi ia juga mengawini Hartini saat wanita itu berusia 29 tahun dan sudah melahirkan lima anak. Sementara itu, Inggit Garnasih lebih tua 15 tahun dari Sukarno.
Dan Dewi Sukarno?yang kemudian menjelma menjadi salah satu selebriti dunia?tadinya bekerja di sebuah klub malam di Jepang. Toh, ada satu kesamaan yang "mempersatukan" para istri Sukarno: wajah yang rupawan. Foto-foto masa muda Inggit Garnasih memancarkan kecantikan yang sensual. Hartini tampak begitu ayu saat menjadi pengantin Bung Karno. Dan Fatmawati sungguh jelita dalam usia 20 tahun saat menjadi Nyonya Sukarno pada 1943. Toh kecantikan adalah pisau bermata dua dalam setiap perkawinan mereka. Seorang wanita yang dilimpahi aliran cinta yang bergelora harus tabah menyaksikan padamnya api asmara tatkala Sukarno terpikat pada wanita lain.
Dalam wawancara dengan TEMPO pada 1999, Hartini bercerita tentang kegemaran suaminya pada kecantikan: "Cintanya kepada wanita yang cantik adalah beban bagi saya, walaupun saya sudah berusaha menerima dia sebagaimana adanya. Dia sangat mencintai keindahan, termasuk keindahan dalam kecantikan wanita."
Karisma Sukarno sebagai seorang pencinta mendatangkan rasa kagum banyak orang. Bambang Widjanarko, yang mendampingi Sukarno delapan tahun sebagai ajudan pribadi, pernah menulis: "Daya tarik serta taraf intelektualnya yang tinggi menjadikan Sukarno seorang master dalam menaklukkan hati wanita." Sebagai laki-laki, Sukarno pandai mencurahkan perhatiannya secara utuh kepada setiap wanita yang dihadapinya sehingga wanita tersebut merasa ia satu-satunya yang paling dicintai.
Mantan presiden itu tak segan mengambilkan minum untuk seorang tamu wanita, membantu memegang tangan wanita itu sewaktu turun dari mobil, atau sekadar memuji busana dan tata rambutnya. "Bung Karno tahu, setiap wanita amat senang mendapat pujian," demikian ditulis Bambang. Bekas ajudan itu juga menuturkan, punya presiden dengan banyak istri menimbulkan kerepotan tersendiri. Salah satu tugas Bambang, misalnya, meneliti "kerapian" Bung Karno saban kali sang Presiden meninggalkan rumah salah satu istrinya: apakah ada bekas lipstik yang menempel, baju yang kusut, atau bau parfum yang melekat.
Jika masih "kurang rapi", Bung Karno akan mandi dan ganti baju sebelum meluncur ke rumah istrinya yang lain. Ia memang punya alasan sendiri untuk berhati-hati. Menurut Sukarno, sekali seorang suami tidak mengakui hubungan asmaranya dengan wanita lain, sebaiknya ia berbohong untuk selamanya. Mengapa? "Di dalam hal lain, istri dapat memaafkan dan melupakan perbuatan suami yang salah. Tetapi mengenai affair dengan wanita lain, zij kan wel vergeven maar nooit vergeten (ia dapat memaafkannya tetapi tidak akan pernah melupakannya)," ujarnya kepada Bambang.
Tak mengherankan, Bung Karno pernah memerintahkan para pengawalnya "merusakkan" mesin mobil salah satu istrinya dan memogokkan truk di depan gerbang istana untuk mencegah kedatangan sang istri. Rupanya, si nyonya mendadak menemui Bung Karno?yang sedang berkasih-kasihan dengan istri yang lain.
Toh, Bung Karno mahir melumerkan kemarahan wanita dengan rupa-rupa cara: dari menulis kata-kata mesra di atas potongan-potongan kertas hingga memberi limpahan hadiah. Tak semua istri Sukarno bisa menerima cinta Sukarno yang terbelah. Inggit dan Fatmawati bertahan pada sikap antipoligami.
Suatu hari, Sukarno masuk kamar untuk menemui Fatmawati, yang berbaring di samping Guruh yang baru berusia dua hari. Kepada Fat?begitu sapaan Bung Karno kepada First Lady?ia meminta izin menikah dengan Hartini. Fatmawati mengizinkan, tapi ia lalu meninggalkan istana dan tinggal di Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, hingga akhir hayatnya. "Terlepas dari perasaanku, satu hal patut dipuji: Bung Karno tidak hipokrit,"
Fatmawati menuliskan kisah itu dalam Catatan Kecil Bersama Bung Karno. Dalam menurutkan perasaan cintanya, Bung Karno memang berani mendada aneka halangan. Perkawinannya dengan Hartini, misalnya, merupakan pukulan terhadap gerakan perempuan Indonesia yang waktu itu sedang gencar-gencarnya menuntut Undang-Undang Perkawinan dengan semangat antipoligami. Persatuan Wanita Republik Indonesia sempat menggerakkan aksi demon-strasi memprotes perkawinan tersebut.
Toh, Bung Karno tetap menikahi Hartini dan menempatkannya di Istana Bogor hingga hari-hari kejatuhannya. Dan masa kejatuhan ternyata tak kuasa menjauhkan Bung Karno dari cinta. Hartini mendampinginya sampai akhir dan "menangis tanpa air mata selama setahun" setelah kematian suaminya. Bukti cinta yang mendalam diperlihatkan pula oleh Inggit Garnasih kepada Kusno?sebutan Inggit untuk Sukarno?yang menceraikan dirinya saat Bung Karno mulai menapaki masa jaya.
Setelah bersama menempuh tahun-tahun penuh kesulitan, Inggit menepi, memberi jalan bagi Sukarno untuk menikahi anak angkatnya: Fatmawati. Dalam babak akhir biografinya, Kuantar ke Gerbang: Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno?yang ditulis Ramadhan K.H.?Inggit menuturkan hari-hari akhirnya bersama Bung Karno.
Dalam perjalanan pulang ke Bandung, setelah talak jatuh, ia berhenti di tengah kebun teh untuk mendoakan Kusno. Wanita itu mengatakan: "Sesungguhnya aku harus senang pula karena dengan menempuh jalan yang bukan bertabur bunga, aku telah mengantarkan seseorang sampai di gerbang yang amat berharga."

MAJALAH DINDING TEMPO DOELOE
Bung Karno Lahir Dengan Nama Kusno
Bung Karno terlahir dengan nama Kusno. Sejak kecil hingga usia belasan tahun, Kusno selalu sakit-sakitan. Yang terparah adalah saat ia berumur sebelas tahun. Sakit thypus menyerangnya dengan hebat. Bahkan kerabat dan handai taulan menyangka, Kusno berada di ambang pintu kematian.
Dalam... kondisi seperti itu, ayahandanya, Sukemi Sosrodihardjo mendorong semangat Kusno untuk bertahan.
Selama dua setengah bulan Kusno tak bangun dari tempat tidurnya. Dan…. selama itu pula, ayahnya setiap malam tidur di bawah tempat tidur Kusno. Ia berbaring di atas lantai semen yang lembab di alas tikar pandan yang tipis dan lusuh, tepat berada di bawah bilah-bilah bambu tempat tidur Kusno.
Memang, riwayat penyakit Kusno kecil berderat panjang. Ia tercatat pernah mengidap malaria, disentri… pokoknya semua penyakit dan setiap penyakit. Hingga akhirnya, Sukemi menyimpulkan, nama Kusno tidak cocok, karenanya harus diganti agar tidak sakit-sakitan. Dalam tradisi Jawa, mengganti nama seorang anak (terutama bila dianggap tidak cocok karena “terlalu berat” dan mengakibatkan si anak sakit-sakitan) adalah hal biasa.
Raden Sukemi, ayahanda Kusno adalah penggandrung Mahabharata, sebuah epik Hindu zaman dulu. Tak heran bila suatu hari Sukemi berkata kepada Kusno, “Kus, engkau akan kami beri nama Karna. Karna adalah salah seorang pahlawan terbesar dalam cerita Mahabharata.”
Kusno menyambut kegirangan, “Kalau begitu, tentu Karna seorang yang sangat kuat dan sangat besar…”
“Oh, ya nak,” jawab Sukemi setuju, “juga setia pada kawan-kawan dan keyakinannya, dengan tidak memperdulikan akibatnya. Tersohor karena keberanian dan kesaktiannya. Karna adalah pejuang bagi negaranya dan seorang patriot yang saleh.”
Dan… sambil memegang bahu, serta memandang jauh ke dalam mata Kusno, berkatalah sang ayah, “Aku selalu berdoa, agar engkau pun menjadi seorang patriot dan pahlawan besar dari rakyatnya. Semoga engkau menjadi Karna yang kedua.”
Nama Karna dan Karno sama saja. Dalam bahasa Jawa, huruf “A” menjadi “O”. Sedangkan awalan “Su” pada kebanyakan nama orang Jawa, berarti baik, paling baik. Jadi, Sukarno berarti pahlawan yang paling baik. Begitulah nama Kusno telah berganti menjadi Karno… Sukarno.
Namanya satu kata saja: SUKARNO. Maka, ketika ada wartawan asing menuliskan nama Ahmad di depan kata Sukarno, Bung Karno menyebut wartawan itu sebagai goblok.
Ia juga menjelaskan ihwal ejaan “OE”. Waktu ia sekolah di zaman Belanda, untuk kata “U” memang ditulis “OE”. Tak urung, tanda tangan Bung Karno pun menggunakan “OE”. Akan tetapi, setelah Indonesia merdeka, Bung Karno-lah sebagai Presiden yang menginstruksikan supaya segala ejaan “OE” kembali ke “U”. Ejaan nama Soekarno pun menjadi Sukarno. “Tetapi, tidak mudah untuk mengubah tanda tangan setelah berumur 50 tahun, jadi kalau aku sendiri menulis tanda tanganku, aku masih menulis S-O-E,” ujar Bung Karno, menjelaskan ihwal ejaan namanya yang benar adalah SUKARNO dengan tanda tangannya yang masih menggunakan ejaan SOEKARNO karena kebiasaan.
Bagian ini sangat valid, karena merupakan penuturan langsung Bung Karno dalam biografinya yang ditulis Cindy Adams: “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”.

MAJALAH DINDING TEMPO DOELOE
Pidato Bung Karno Mengganyang Malaysia
(Dikutip dari Buku “Dibawah Bendera Revolusi”)
Oleh unangmuchtar
Heboh tentang ulah Malaysia atas pengakuan beberapa khasanah kebudayaan dan wilayah kita membuat suasana menjaedi “hangat”, bahkan reaksi keras seperti “Ganyang Malaysia” muncul dimana-mana.
Saya teringat kepada Bung ...Karno, yang pada tahun 1960 an melakukan konfrontasi dengan Malaysia, berteriak lantang “ganyang Malaysia”, Saya mencoba mencari tahu kenapa Bung karno melakukan itu. Saya coba buka buku “Dibawah Bendera Revolusi”, yaitu buku kumpulan setiap pidato Bung karno. Saya kutipkan secara utuh sebagian Pidato Bung karno tentang Malaysia waktu itu (saya tidak bermaksud apa-apa, hanya sekedar mengingatkan sejarah yang pernah terjadi antara kita dengan Malaysia), sebagai berikut :
Sebab musababnya kita hendak mengganyang “Malaysia”, sudah sering saya paparkan dimuka umum. Penginjak-injakan Manila-Agreement oleh Tengku, kepalsuan penyelidikan Michelmore, gegabahnya U Thant atas dasar Michelmore itu, fait accomple Proklamasi Malaysia pada 16 september 1963 sebelum “penyelidikan” selesai, dan lain-lain sebagainya, sudah cukup luas saya pidato dimana-mana. Tetapi yach, masih saja ada pihak yang belum mengerti mengapa Republik Indonesia as a matter of principle berkonfrontasi terhadap “Malaysia” dan masih saja ada yang dengan cara ini cara itu memberikan sokongannya kepaeda neo kolonialisme “Malaysia” itu. Saya membaca misalnya baru-baru ini lampiran salah satu badan PBB, dan disana dikatakan “per capita income” dari penduduk Malaysia itu lebih tinggi daripada Indonesia. Bermacam-macam caranya orang membaca statistik ! Kalau statistik PBB itu dijual kepada orang-orang yang bodoh dan goblok, tentu saja ia bisa laku. Tetapi kepada kita dikatakan :”Penduduk” Malaysia ? Penduduk yang mana ? ya, penduduk yang mana ? Penduduk pribumikah ? Penduduk jelata melayukah ? berapa puluh prosen dari national income itu yang dicaplok oleh raja-raja melayu dan kapitalis-kapitalis koumintang, dan berapa prosen saja yang bagian melayu rakyat jelata ? Lagi pula, kalau ada “kemakmuran” tetapi tidak ada kemerdekaan dan tidak ada demokrasi, maka itu namanya “kemakmuran” kolonialisme, itu tandanya kolonialisme tulen, itu buktinya kolonialisme mentah -mentah dan telanjang.
Perlawan di Malaysia - Singapura hari ini belum hebat, bukan karena rakyat tak mau melawan, tetapi karena mereka habis ditindas secara bengis, kejam, biadab oleh kaum kolonialis Inggris dengan abdi dalem-abdi dalemnya seperti Tengku, Razak, seperti Kai Boh, seperti Gazali dan lain sebagainya. Lagi pula, kalau hari ini perlawan ini belum hebat, siapa berani bilang bahwa besok dia tidak akan hebat ? lihatlah pejuang-pejuang Kalimantan Utara, yang sejak Proklamasi 8 desembernya tahun 1962 melakukan perjuangan bersenjata yang bekerja sama dengan sukarelawan-sukarelawan Indonesia, dan yang benar-benar mengkalang kabutkan strategi dan taktik-taktik militer Inggris dan antek-anteknya.
Merdeka tidaknya suatu negeri, selain bisa dilihat dari struktur ekonominya, dari politik dalam dan luan negerinya, dan sebagainya, juga bisa dilihat dari kualitet penguasa-penguasanya. Negeri yang diperintah oleh Komprador-komprador imperialis tak mungkin negeri yang merdeka !. Ambilah misalnya Konggo. Kalau tempo hari kita pergi ke Konggo, dan kita lihat yang berkuasa disana Patrice Lumumba, yang bukan saja bukan komprador, tetapi seorang patriot besar, maka itu sudah pertanda Konggo merdeka. Tetapi kalau sekarang kita kesana dan ternyata Tsombe yang berkuasa, orang gila mana yang percaya bahwa negeri itu sudah merdeka !.
Tengku Abdul Rahman adalah tulen antek-antek imperialis, yang demikianlah antek imperilais…….. Tapi sebaik-baiknya antek, nasibnya tidaklah lebih daripada nasib antek ! lupakah kita pada Syngman Rhee yang kemudian dikorbankan oleh tuan-tuannya ? Lupakah kita pada Ngo Dien Diem, yang kemudian direlakan oleh majikan-majikannya ? untuk memakai expresi Amerika. Antek-antek itu sepeti “Paper tissues which one uses once and then throws away”. Dipakai satu kali saja, kemudian dibuang lagi sebagai sampah.
Saya kutipkan kembali bagian pidato Bung Karno yang saya ambil dari buku “Dibawah Bendera Revolusi jilid 2″, dan sekali lagi ini bukan provokasi, semata-mata kilas balik sejarah kita kenapa Bung Karno dulu mencanangkan Konfrontasi dengan Malaysia :
…………………
Nah, bagaimana sekarang dengan konfrontasi kita dengan Malaysia itu ? Tidak bisa kita sekarang ini membicarakan Malaysia tanpa membicarakan situasi di Asia tenggara dan diseluruh asia umumnya. Tidak bisa saya katakan, karena Asia tenggara saat ini sebenar-benarnya sedang menjadi pusat telengnya kontradiksi-kontradiksi dunia. Kontradiksi antara sosialisme dan kapitalisme terdapat dibagian dunia sebelah sini itu dalam bentuk-bentuk yang tajam. Juga kontradiksi antara kerja dan kapital (arbeid en kapitaal). Kontradiksi yang dalam Gesuri kunamakan “Innerlijke conflicten” daripada imperlialisme dunia. Apalagi kontradiksi antara bangsa-bangsa yang baru merdeka, bangsa-bangsa terjajah dan setengah terjajah, dengan imperlialisme ,– di Asia tenggara inilah kontradiksi itu paling tajam. Lagi pula kontradiksi ini yang penyelesaiannya berarti memotong garis hidup imperialisme dunia, adalah kontradiksi yang paling genting, paling menentukan, didunia kita dewasa ini.
……………………………
Korea, Vietnam dan Indonesia sama-sama membebaskan diri dari imperialisme di bulan agustus 1945. Kemudian bersama-sama pula kami bertiga mengalami agresi-agresi kolonial kaum imperialis. Belanda di Indonesia, Perancis di Vietnam, Amerika di Korea. Tetapi kami tak pernah gentar, kami tak sudi dijual kepala. Karena itu kami berikan perlawanan dimana kami harus berikan perlawanan. Dengan perjuangan yang prinsipil dan konsekwen inilah maka Irian Barat berhasil kami bebaskan tahun yang lalu. Tetapi “Irian Baratnya” Korea dan “Irian Barat”nya Vietnam, yaitu bagian selatan negara-negara mereka kini belum bebas. Beberapa waktu yang lalu saya katakan kepda Ny. Prof Nguyen Thi Bich dari Front Pembebasan Vietnam Selatan doa saya, agar rakyat Vietnam bersatu kembali dalam kemerdekaan. Dan serangan Amerika ataupun Vietnam utara sekarang inipun kami kutuk, dengan sekeras-kerasnya. Dan aku pun mendoakan Korea lekas bersatu kembali dalam kemerdekaan.
Tetapi apakah dengan bebasnya Irian Barat, Republik Indonesia sudah aman dan bebas dari ancaman-ancaman imperialis ? Tidak, jauh daripada itu “Malaysia” masih dipasang di depan pintu R.I., “Malaysia” masih membentantg dimuka rumah Republik Indonesia, sebagai anjing penjaganya imperialisme. Fakta-fakta militer disekitar kita baru-baru ini ikut-ikut pula membicarakan soal kita, tapi zonder seizin kita !. Kita dikepung terang-terangan oleh kaum imperlialis dari segala jurusan.
Tetapi kita tidak gentar, kita tidak takut. Memang saudara-saudara jangan gentar, jangan takut ! Berjalanlah terus, ganyanglah terus “Malaysia” itu meski ia ditolong dan dibantu oleh sepuluh imperialis sekalipun.
Demikianlah beberapa kutipan pidato Bung karno saat kita berkkonfrontasi dengan Malaysia. Sekali lagi ini hanyalah sejarah, tidak ada maksud membuka luka lama kita dengan Negara tetangga manapun.
Terima kasih.

MAJALAH DINDING TEMPO DOELOE
Serial wayang purwa
Arjuna Wiwaha - Begawan Ciptoning/Mintaraga
Batara Indra dihadap para dewa, bidadari dan arjuna. Disini Arjuna diwisudha menjari raja kaendran selama 7 hari (dunia) = 7 bulan di kayangan dan boleh memilih 40 bidadari sebagai istrinya
1. Gunung Indralika:
Kyai Semar bersama anak-anaknya yaitu Gareng, Pe...truk dan Bagong. Yang dibicarakan punakawan atas sikap dan tabahnya serta keteguhan jiwa Begawan Ciptoning yang tak lain dan tak bukan adalah si Arjuna, dalam melaksanakan wangsit dari Hyang Agung agar bertapa di Goa Pamintaraga.Tak lama kemudian datanglah Begawan Anoman yang diiringi oleh Gatutkaca. Suasana menjadi riang gembira atas kedatangan Anoman. Setelah bertemu dalam keadaan selamat maka kedatangan Anoman memang disuruh oleh Pandawa untuk mencari Arjuna, maka Semarpun mengatakan bahwa Raden Arjuna sedang bertapa di Goa Pamintaraga dengan alih nama "Begawan Ciptoning".
Anoman dan Gatotkaca merasa gembira dengan keterangan Kyai Semar, maka Anoman secepatnya memberitahu kepada Pandawa, namun sebelum berangkat ditempat itu situasinya berubah menjadi gaduh, karena datangnya patih Mamanggono beserta wadyabala raksasa. Patih dari negara Himahimantaka dan punggawanya mencari saudaranya tua yang bernama patih Mamangmurko yang kesiku oleh dewa berupa **** hutan yang akhirnya pergi dari Jamurdipa, memasuki kawasan gunung Indrakila. Karena silang pendapat dengan Anoman maka terjadilah perang. Perang antara patih Mamanggono belum selesai, ada sambungan cerita, yakni yang ada di Kayangan Suralaya.
2. Kayangan
Batara Indra dihadap 7 bidadari dan memrintahkan para bidadari membuyarkan tapa arjuna karena para Dewa telah kewalahan menghadapi Niwatakaca.
Usaha 7 bidadari gagal total, justru malah para bidadari yang jatuh cinta pada arjuna, bukannya arjuna yang badhar tapanya
3. Kayangan Suralaya:
Bathara Guru sedang miyos siniwoko, dihadapi Bathara Narada dan putra-putra dewa. Yang dibicaraakan Bathara Guru minta laporan atas kehendak Raja Himahimantaka yakni prabu Niwotokawoco, yang ingin mempersunting Bathari Supraba. Bathara Indra melaporkan bahwa Prabu Niwotokawoco mengutus patihnya yang bernama Patih Mamangmurko dan Patih Mamanggono. (Laporan Bathara Indra tadi digelar tersendiri yang kejadiannya sebagai berikut):
Betara Indra beserta dewa lainnya telah bertemu dengan patih mamangmurko dan punggawanya di lereng Gunung Jamurdipa, karena permintaan memboyong Bathari Supraba di tolak oleh Bathara Indra maka terjadilah perang, yang akhirnya Patih Mamangmurko dikutuk oleh dewa menjadi **** hutan Bathara Narada menyarankan walaupun hari ini utusan prabu Niwotokawoco sudah pergi dari gunung Jamurdipa, manun perlu mencari jago guna mengimbangi sekaligus menumpas Prabu Niwotokawoco. Kehendak Bathari Guru untuk mencari jago dilakukan sendiri dan yang dituju yaitu gunung Indrakila, karena Bathari Guru tahu di gua Pamintaraga ada pendeta yang sedang bertapa. Maka Bathara Guru berganti diri menjadi ksatriya dengan nama "Raden Kerotorupo".
4. Gunung Indrakila:
Gareng, Petruk dan Bagong tidak berani mengganggu Semar yang sedang semedi membantu begawan Ciptoning yang juga terus bertapa. Namun juga tidak berani mendekat kepada Anoman dan gatotkaca yang sedang perang dengan Mamanggono dan wadyabala raksasa. Untuk menghibur diri Gareng, Petruk dan Bagong dengan cara tetembangan. Belum puas untuk mengalunkan tembang-tembangnya ditempat punakawan tersebut terpaksa menjadi ajang perang yang terus bergeser ke gua Pamintaraga. Perang terus berlanjut antara Anoman melawan Patih Mamanggono dan antara Gatotkaca melawan wadyabala raksasa.
5. Gua Pamintaraga:
Begawan Ciptaning beberapa bulan lamanya bertapa, namun terpaksa badhar dari semedinya, dikarnakan ada **** hutan yang mengamuk dan semakin mendekati tempat begawan Ciptaning bertapa. Begawan Ciptaning segera mengambil anak panah dan kemudian dilepaskannya tepat mengenai leher **** hutan, bersamaan dengan lepasnya anak panah milik raden Keratarupa yang juga menancap pada leher si **** hutan tersebut, yang tak lain **** hutan tersebut adalah jelmaan dari patih Mamangmurko. Begawan Ciptaning dan Raden Keratarupa berebut kebenaran atas anak panah yang mengenai **** hutan, maka akhirnya terjadi perang.
6.Ciptaning badhar Arjuna, Raden Keratarupa badhar Betara guru sekaligus mengangkat Arjuna sebagai jago dewa, serta Betara Guru memberi pusaka kyai Pasopati, kemudian Arjuna diboyong ke kayangan. Kembali lagi melanjutkan Anoman yang sengaja menghabiskan tenaga patih Mamanggono, yang akhirnya tewas di tangan Anoman.
7.Gatutkaca tidak gentar menghadapi bala raksasa dari Himahimantaka, maka satu demi satu bala raksasa tersebut akhirnya tewas. Tewasnya patih dan bala raksasa, kemudian datanglah kyai Semar mengatakan bahwa Raden Arjuna menjadi jagonya dewa untuk menumpas Prabu Niwotokawoca raja Himahimantaka. Anoman dan Gatutkaca segera pamit kepada para panakawan untuk segera memberitahu kepada para Pandawa. Setelah itu para panakawan bergegas untuk menyusul Arjuna ke Kayangan Suralaya.
8. Kayangan Suralaya
Bathara Guru dihadap oleh para Dewa, dan Raden Arjuna yang akan diwisuda untuk menjadi jago Dewa. Setelah persiapan selesai, Arjuna diwisuda menjadi jago Dewa untuk menumpas murkanya Prabu Niwotokawoco yang menentang kodrat, yakni ingin mempersunting Bathari Supraba. kemudian Arjuna berangkat ke Himohimantoko didampingi Bathari Supraba.
9.Kerajaan Himohimantoko
Prabu Niwotokawoco menerima kedatangan Togog dan Bilung yang melaporkan tewasnya Patih Mamangmurko dan Patih Mamanggono. sang Prabu sangat marah mendengar berita tersebut, namun belum sampai jumangkah, Abdi Emban menghadap, untuk menghaturkan bahwa Bathari Supraba berada di Kedaton. Bathari Supraba beberapa lama menanti kondur sang Prabu Niwotokawoco. Setelah yang dinanti-nantikan datang, kemudian Bathari Supraba mengatakan bahwa kedatangannya memang siap untuk dipersunting sang raja.Prabu Niwotokawoco sangat gembira mendengar keterangan dari Bathari Supraba sehingga secara tidak sadar, sang raja memberitahu segala hal yang ingin diketahui oleh Dewi Supraba. Sang raja juga memberi tahu letak kesaktiannya, termasuk Aji Gineng, sampai letak pengapesannya juga diberitahukan kepada Bathari Supraba. pada waktu itu juga, keterangan sang raja didengar oleh Arjuna yang juga berada di kedaton tersebut dengan menggunakan Aji Panglemunan, yang akhirnya terjadilah perang antara Arjuna melawan Prabu Niwatakawaca.
10. Kerajaan Himahimantaka:
Arjuna tidak berdaya melawan kekuatan Prabu Niwatakawaca. Namun pada waktu Arjuna telah dijangkahkan oleh Prabu Niwatakawaca yang sedang tertawa terbahak-bahak, Arjuna melihat sinar yang berada di telak sang raja, yang merupakan sinar dari Aji Gineng. Kemudian dengan gerak yang sangat cepat, Arjuna melepaskan Pasopati tepat mengenai telak Prabu Niwatakawaca, yang membuat sang raja tewas. Para Punggawa yang tidak menerima kematian raja mereka bisa ditumpas oleh Raden Bima yang juga sudah berada di Himahimantaka.
Bathara Indra menjemput sang Arjuna untuk menghadapi Sang Hyang Giripati untuk diwisuda menjadi "Lananging Jagat Lancuring Madyapada".
11. Kayangan Suralaya.
Batara Indra dihadap para dewa, bidadari dan arjuna. Disini Arjuna diwisudha menjari raja kaendran selama 7 hari (dunia) = 7 bulan di kayangan dan boleh memilih 40 bidadari sebagai istrinya
Tancep Kayon

MAJALAH DINDING TEMPO DOELOE
Serial Wayang Purwa
PERANG BHARATAYUDHA
Perang Bharatuydha diperkirakan terjadi di Kurukshetra yang merupakan bagian penting dari wiracarita Mahabharata, dilatarbelakangi perebutan kekuasaan antara lima putera Pandu dengan seratus putera Dretarastra. Dataran Kurukshetra yang menjadi lokasi pertempuran ini masih bisa diku...njungi dan disaksikan sampai sekarang. Kurukshetra terletak di negara bagian Haryana, India.
Pertempuran tersebut tidak diketahui dengan pasti kapan terjadinya, sehingga kadang-kadang disebut terjadi pada "Era Mitologi". Beberapa peninggalan puing-puing di Kurukshetra (seperti misalnya benteng) diduga sebagai bukti arkeologinya. Menurut Bhagawad Gita, Perang di Kurukshetra terjadi 3000 tahun sebelum tahun Masehi (5000 tahun yang lalu) dan hal tersebut menjadi referensi yang terkenal.[2] Meskipun pertempuran tersebut merupakan pertikaian antar dua keluarga dalam satu dinasti, namun juga melibatkan berbagai kerajaan di daratan India pada masa lampau. Pertempuran terjadi selama 18 hari. Perang tersebut mengakibatkan banyaknya wanita yang menjadi janda dan banyak anak-anak yang menjadi anak yatim. Perang ini juga mengakibatkan krisis di daratan India dan merupakan gerbang menuju zaman Kali Yuga.
Latar belakang
Mahābhārata, merupakan kisah epik besar yang menceritakan tentang kehidupan keluarga Dinasti Kuru sebagai kisah sentral. Salah satu bagian yang terkenal dalam kisah tersebut adalah perang di Kurukshetra. Kurukshetra berarti “daratan Kuru”, disebut juga Dharamkshetra yang berarti “daratan keadilan”. Lokasi tersebut dipilih sebab daratan tersebut merupakan tanah yang sangat suci. Dosa-dosa apa pun yang dilakukan di sana pasti dapat terma'afkan berkat kesuciannya.
Kisah perebutan kekuasaan terjadi antara keturunan Pandu dengan keturunan Dretarastra. Pandu dan Dretarastra bersaudara tiri, lain ibu namun satu ayah. Dretarastra buta sejak lahir, maka pemerintahan diserahkan oleh ayahnya kepada adik tirinya, Pandu. Setelah Pandu meninggal, Dretarastra menggantikan posisi Pandu sebagai kepala pemerintahan di Hastinapura. Ia sebenarnya bukan seorang Raja sejati, hanya pejabat pemerintahan sementara waktu.
Pandu memiliki lima putera yang disebut Pandawa, sedangkan Dretarastra memiliki seratus putera yang disebut Korawa. Pandawa dan Korawa tinggal di istana yang sama dan dididik oleh guru yang sama, Dronacharya. Korawa bersifat licik, khususnya Duryodana, kakak sulung para Korawa. Mereka ingin mewarisi tahta Dinasti Kuru, namun Pandawa adalah penerus kerajaan yang sebenarnya. Selama Pandawa masih ada, Korawa tidak memiliki peluang untuk mewarisi tahta. Maka berbagai upaya dilakukan untuk menyingkirkan para Pandawa. Namun para Pandawa selalu selamat meskipun nyawa mereka berkali-kali terancam. Hal itu berkat perlindungan yang seksama dari pamannya, Widura, dan Sri Kresna, sepupunya.
Setelah gagal dengan berbagai usaha, kemudian Korawa mengajak Pandawa main dadu, dengan syarat yang kalah harus meninggalkan istana selama tiga belas tahun. Tapi permainan dadu yang sudah disetel dengan licik mengakibatkan Pandawa kalah, sehingga mereka harus meninggalkan kerajaan selama tiga belas tahun dan terpaksa mengasingkan diri ke hutan.
Setelah masa pengasingan berakhir, sesuai dengan perjanjian yang sah, Pandawa berhak meminta kembali kerajaannya. Namun Duryodana menolak mentah-mentah untuk menyerahkan kembali kerajaannya. Sebagai seorang pangeran, Pandawa merasa wajib dan berhak turut serta dalam administrasi pemerintahan, maka mereka meminta lima buah desa saja. Tetapi Duryodana sombong dan berkata bahwa ia tidak bersedia memberikan tanah kepada para Pandawa, bahkan seluas ujung jarum pun. Jawaban itu membuat para Pandawa tidak bisa bersabar lagi dan perang tak bisa dihindari. Duryodana pun sudah mengharapkan peperangan.
Sebelum keputusan untuk berperang diumumkan, para Pandawa berusaha mencari sekutu dengan mengirimkan surat permohonan kepada para Raja di daratan India Kuno agar mau mengirimkan pasukannya untuk membantu para Pandawa jika perang besar akan terjadi. Begitu juga yang dilakukan oleh para Korawa, mencari sekutu. Hal itu membuat para Raja di daratan India Kuno terbagi menjadi dua pihak, pihak Pandawa dan pihak Korawa.
Sementara itu, Kresna mencoba untuk melakukan perundingan damai. Kresna pergi ke Hastinapura untuk mengusulkan perdamaian antara pihak Pandawa dan Korawa. Namun Duryodana menolak usul Kresna dan merasa dilecehkan, maka ia menyuruh para prajuritnya untuk menangkap Kresna sebelum meninggalkan istana. Tetapi Kresna bukanlah manusia biasa. Ia mengeluarkan sinar menyilaukan yang membutakan mata para prajurit Duryodana yang hendak menangkapnya. Pada saat itu pula ia menunjukkan bentuk rohaninya yang hanya disaksikan oleh tiga orang berhati suci: Bisma, Drona, dan Widura.
Setelah Kresna meninggalkan istana Hastinapura, ia pergi ke Uplaplawya untuk memberitahu para Pandawa bahwa perang tak akan bisa dicegah lagi. Ia meminta agar para Pandawa menyiapkan tentara dan memberitahu para sekutu bahwa perang besar akan terjadi.

MAJALAH DINDING TEMPO DOELOE
Majalah Pertiwi, Tahun 6, Oktober 1991, hal. 112-113
Wanita Jawa di Suriname (2)
(Javanese women in Suriname II)
Oleh Kundalini Yoga Meditasi *
Bahasa Jawa Ngoko
Anne Sastromejo (wanita Jawa-Suriname yang aktif dalam kegiatan kelompok Jawa-Suriname di Negeri Belanda) menyatakan bahwa tidak ada kontak antara orang2 Jawa-Sur...iname di Negeri Belanda dengan orang2 Jawa dari Indonesia. Kedua kelompok ini telah berkembang sendiri membentuk ciri2 yang berbeda satu sama lainnya. Lingkungan hidupnya pun berbeda. Orang Jawa-Suriname merasa segan berhu-bungan dengan orang Indonesia, terutama karena masalah bahasa. Bahasa Jawa yang mereka gunakan se-hari2 ialah bahasa Jawa ngoko (kasar) yang kuno. Memang bahasa inilah yang dipakai oleh golongan kaum buruh. Dan karena kurangnya kontak dengan orang Jawa se-lama di Suriname, bahasa Jawa tersebut tidaklah berkembang. Demi-kian juga dengan bahasa Melayu mereka (mereka tidak bisa berbahasa Indonesia). Dengan kesulitan komunikasi ini seringkali mereka merasa bahwa orang Indonesia/Jawa yang dijumpai menunjukkan sikap merendahkan orang2 Jawa-Suriname yang bahasanya janggal itu. Itu-lah sebabnya orang2 Jawa-Suriname dan keluarga nenek Juariah ti-dak pernah mengunjungi perayaan2 yang diadakan oleh Kedutaan In-donesia maupun oleh keluarga2 Indonesia lainnya. Dengan demikian kebudayaan Jawa di Suriname (dan sekarang diteruskan di negeri Belanda) berkembang menurut interpretasi mereka sendiri. Orang2 Jawa-Suriname ini mengadakan sendiri perayaan Lebaran, perkawinan, dsb. secara terpisah, mengikuti adat dan kebiasaan sebagaimana mereka pelajari dari leluhur mereka.
Aspek lain dari budaya Jawa yang sulit dipertahankan keasliannya ialah membuat masakan Jawa. Tidak adanya bahan pangan dan bumbu yang diperlukan bagi masakan itu menyebabkan pengolahan makanan harus disesuaikan dengan kondisi setempat. "Orang2 perempuan ha-rus membuat sendiri bumbu2 seperti terasi, dsb. Tetapi dengan meningkatnya jumlah orang Jawa yang datang ke Suriname meningkat pulalah barang2 dagangan dan bahan makanan dari Jawa", kata ibu Ponirah. Langkanya bahan pangan dan bumbu bagi pengolahan masakan Jawa memaksa orang Jawa-Suriname untuk mengubah dan mengembangkan cita rasa masakan mereka. Karena tidak ada asam maka sayur asam pun dibuat dengan jeruk purut saja, misalnya. Tidaklah mengheran-kan jika seorang Jawa-Suriname yang kebetulan berkunjung ke Indo-nesia mengatakan bahwa masakan di Jawa tidak sama dengan yang biasa dimakannya di rumah.

MAJALAH DINDING TEMPO DOELOE
Majalah Pertiwi, Tahun 6, Oktober 1991, hal. 112-113
Wanita Jawa di Suriname (1)
(Javanese women in Suriname II)
Oleh Kundalini Yoga Meditasi *
Nasi Gulai di Suriname
Upaya pengerahan tenaga kerja telah memindahkan kira2 33 ribu orang Jawa ke Suriname selama setengah abad sejak tahun 1890 untuk bekerja di perkebunan. Keban...yakan dari buruh ini menetap di Suriname seusai kontraknya selama lima tahun. Kira2 seperempat dari jumlah buruh itu kembali lagi ke pulau Jawa. Di antara me-reka ada beberapa puluh orang yang sampai sekarang masih menetap di Jakarta. Juga ada yang melanjutkan perantauannya dari Suriname ke Negeri Belanda (kira2 22 ribu orang). Keluarga nenek Juariah adalah salah satu dari keluarga Jawa-Suriname yang berada di negeri Belanda.
Hidup di perantauan, di tengah2 perkebunan di Suriname seperti yang dialami oleh nenek Juariah dan kakek Sawigeno, tidaklah ha-nya menimbulkan rasa kesepian melainkan juga perasaan jauh dari kampung halaman dan kebudayaannya yang asli. Guna mengurangi rasa sepi dan terasing itu, buruh2 di lingkungan "penangsi" (perkebunan) tersebut sering berkumpul dan mengadakan selamatan pada hari2 atau peristiwa2 tertentu. Di kalangan mereka beberapa aspek buda-ya Jawa tertentu tetap dipelihara dan terus dikembangkan, sebatas ingatan dan interpretasi individu2 pengemban budaya itu. Bagaimanakah orang Jawa di Suriname memelihara dan meneruskan kebudayaan Jawa ini ?
Mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan Jawa
Di kampung "penangsi" itu tidak ada kegiatan apa2 lagi selain be-kerja. Karena tidak ada hiburan maka pada malam hari atau pada hari Minggu, para penghuni kampung itu berkumpul untuk mengobrol. Kadang2 mereka juga mengadakan perhelatan dengan pertunjukan wa-yang kulit atau kuda kepang. Mereka juga merayakan perkawinan, khitanan atau lebaran dengan selamatan. Selamatan ini adalah sa-lah satu aspek kebudayaan Jawa yang dipertahankan dan diteruskan kepada generasi yang muda. Penerusan kebudayaan dan adat ini terjadi di kalangan sanak keluarga dan teman2 sekelompok saja.
Kelompok orang Jawa di tanah rantau itu ingin mempertahankan bu-dayanya sendiri, tetapi mereka harus mengandalkan daya ingatnya saja sebab pada masa itu hampir tidak ada kontak dengan orang2 di tanah air. Budaya ini lalu diajarkan dan diteruskan kepada anak dan cucu mereka sebagai suatu tradisi. Tidaklah mengherankan jika kebudayaan itu kini tidak persis sama dengan apa yang kita lihat sekarang di Jawa. "Kebudayaan Jawa-Suriname mendapat pengaruh da-ri budaya suku2 lain di Suriname bahkan juga dari kebudayaan Ba-rat", kata Bapak Sariman, salah seorang tokoh penting dari kelompok Suriname di Negeri Belanda, yang membuat skenario film seja-rah dokumenter "Tembang Seratus" tentang kelompok orang Jawa-Suriname. Pengaruh Barat terlihat misalnya dalam gaya tarian Jawa di film itu. Dengan pengaruh budaya lain tersebut maka budaya Jawa-Suriname berkembang berbeda dari kebudayaan Jawa di Indonesia walaupun asalnya sama.
Dalam melaksanakan dan meneruskan adat kebiasaan, tata cara dan kesenian Jawa, orang2 Jawa di Suriname memakai perangkat yang me-reka bawa dari Jawa (gamelan, dsb). Di samping itu mereka membuat sendiri alat2 kesenian mereka, seperti misalnya wayang kulit dan kuda kepang. Kedatangan konsulat Indonesia di Suriname membantu memberi bentuk baru dan memperbesar variasi dalam perkembangan kebudayaan Jawa, seperti misalnya dalam tari-menari, kata ibu Po-nirah, putri nenek Juariah. Tetapi kadang2 pembaruan budaya itu dianggap aneh dan tidak selalu mudah diterima, misalnya tentang pencak silat. Orang2 Jawa di Suriname menganggap pencak silat itu sebagai suatu falsafah pengendalian diri, dan bahkan ada unsur magi-nya. Oleh sebab itu ketika konsulat Indonesia memperkenalkan pencak silat sebagai suatu cabang olah raga dan bahkan mengadakan perlombaan pencak silat, masyarakat Jawa-Suriname tidak dapat me-nerimanya begitu saja.
Selain kesenian, beberapa aspek yang dianggap penting bagi kehidupan keluarga juga dipertahankan, seperti khinatan anak laki2, upacara/adat perkawinan, upacara "witonan" bagi wanita yang hamil 7 bulan dan upacara turun tanah bagi anak yang baru belajar ber-jalan. Keluarga nenek Juariah dan ibu Ponirah masih melakukan upacara2 adat tersebut. Pelaksanaan berbagai upacara adat itu di-lakukan oleh orang yang ahli dalam bidang tersebut, yaitu dukun "manten" (perias pengantin) dan dukun sunat. Dukun2 itu, dan juga dukun bayi, datang ke Suriname bersama dengan kelompok pekerja kontrak pada akhir abad lalu. Di Negeri Belanda pun kini tersedia perias pengantin Jawa-Suriname yang menyewakan peralatan pengantin. Hanya pertolongan persalinan dan khitanan telah dilakukan oleh dokter.

MAJALAH DINDING TEMPO DOELOE
Tempat Tidur Bung Karno di Blitar
Ada sesisir pisang dan dua gelas air putih dan teh manis di atas atas meja kecil di sisi tempat tidur. Tiga lukisan dan gambar masing-masing adalah lukisan diri Bung Karno (bawah), foto Bung bersama Ibu Fat dan kelima anak mereka (tengah), dan foto Bung Karno bersama Ibu Fat (atas).
Lema...ri kaca dan tiga keris dari Keraton Yogyakarta.
Lemari hias di seberang tempat tidur. Foto di dinding adalah foto Ny. Wardoyo bersama dua kerabat.
Tempat tidur Bung Karno yang ditaburi bunga melati.

MAJALAH DINDING TEMPO DOELOE
Bung Karno di Tengah Jepitan CIA
Oleh: Maruli Tobing
TANGGAL 7 Desember 1957, pukul 19.39, Laksamana Felix Stump, panglima tertinggi Angkatan Laut (AL) AS di Pasifik, menerima perintah melalui radiogram dari Kepala Operasi Angkatan Laut (AL) Laksamana Arleigh Burke. Isinya, dalam empat jam ke depan gugus satuan tugas di ...Teluk Subic, Filipina, bergerak menuju selatan ke perairan Indonesia. "Keadaan di Indonesia akan menjadi lebih kritis," demikian salah satu kalimat dalam radiogram tersebut.
Kesibukan luar biasa segera terlihat di pangkalan AL AS. Malam itu juga satuan tugas dengan kekuatan satu divisi kapal perusak, dipimpin kapal penjelajah Pricenton, bergerak mengangkut elemen tempur dari Divisi Marinir III dan sedikitnya 20 helikopter. "Berangkatkan pasukan, kapal penjelajah dan kapal perusak dengan kecepatan 20 knots, yang lainnya dengan kecepatan penuh. Jangan berlabuh di pelabuhan mana pun," bunyi perintah Laksamana Burke.
Inilah keadaan paling genting, yang tidak sepenuhnya diketahui rakyat Indonesia. Perpecahan dalam tubuh Angkatan Darat, antara mereka yang pro dan kontra Jenderal Nasution, serta yang tidak menyukai Presiden Soekarno, mencapai titik didih. Pada saat yang sama, beragam partai politik ikut terbelah memperebutkan kekuasaan.
Kabinet jatuh bangun. Usianya rata-rata hanya 11 bulan. Paling lama bertahan hanyalah Kabinet Juanda (23 bulan), yang merupakan koalisi PNI-NU. Situasi memanas menjalar ke daerah, benteng terakhir para elite politik di pusat. Daerah terus bergolak. Pembangkangan terhadap Jakarta dimulai sejak militer menyelundupkan karet, kopra, dan hasil bumi lainnya.
Militer Indonesia yang lahir dan berkembang dari milisi berdasarkan orientasi ideologi pimpinannya, bukanlah jenis pretorian. Mereka tetap kepanjangan dari parpol, entah itu PNI, PSI, Masyumi, PKI, dan seterusnya. Terlalu kekanak-kanakan jika dikatakan tindakan sekelompok perwira mengepung Istana Bogor dan mengarahkan meriam pada 17 Oktober 1952 sebagai ekspresi ketidakpuasan semata, dan bukan percobaan "kudeta" terselubung. Demikian pula ketika Kolonel Zulkifli Lubis mencoba menguasai Jakarta, sebelum kemudian merencanakan pembunuhan atas Presiden Soekarno dalam Peristiwa Cikini, dengan eksekutor keponakan pimpinan salah satu parpol.
Bagi Gedung Putih, inilah saat tepat melaksanakan rencana tahap III, yaitu intervensi militer terbuka ke wilayah RI. Presiden Soekarno harus tamat segera. CIA di bawah Allen Dulles telah mematangkan situasi. Melalui jaringannya di Singapura, Jakarta, dan London, sebagaimana dikemukakan Audrey R Kahin dan George McT Kahin dalam bukunya yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Subversi Sebagai Politik Luar Negeri, agen-agen CIA berulang kali melakukan kontak khusus dengan Sumitro Djojohadikusumo, pencari dana untuk pemberontakan tersebut. Demikian pula dengan para perwira pembangkang seperti Kolonel Simbolon, Kolonel Fence Sumual, dan sejumlah perwira dan tokoh parpol lainnya.
Namun, ketika perintah menggerakkan elemen Armada VII dikeluarkan, keputusan itu tampak tergesa-gesa yaitu kurang dua jam setelah pembicaraan melalui telepon antara Presiden Eisenhower dengan Menlu John Foster Dulles. Itu sebabnya ketika gugus tugas AL di Teluk Subic bergerak, barulah kedua tokoh ini sadar atas alasan apa intervensi nantinya dilakukan.
Pemerintah Inggris, sekutu terdekat AS, sempat terperanjat dan menolaknya, sehingga kapal-kapal perang tersebut kembali ke pangkalannya. Namun, setelah lobi-lobi intensif, tanggal 23 Desember 1957 PM Harold Macmillan menyetujuinya dan membentuk kerja sama operasi untuk Indonesia.
***
PERTENGAHAN tahun 1958 Gedung Putih akhirnya harus mengakui kegagalannya "menegakkan demokrasi" dan "membendung komunisme" di Indonesia. KSAD Jenderal AH Nasution yang disebut AS sebagai antikomunis, bergerak di luar perkiraan. Ia menerjunkan pasukan para merebut Bandara Pekanbaru. Dari pantai timur, didaratkan Marinir untuk menggunting pertahanan pemberontak. Alhasil, Dumai yang merupakan ladang minyak Caltex, berhasil diamankan.
Pasukan Kolonel Akhmad Husein kocar-kacir, meninggalkan segala peralatan perang, termasuk senjata antiserangan udara yang belum sempat digunakan. Mereka tidak mengira serangan dadakan itu. Pesan rahasia dari Armada VII AS agar meledakkan Caltex tidak sempat lagi dipikirkan. Padahal inilah nantinya akan dijadikan kunci intervensi AS ke Indonesia. Dua batalyon Marinir AS sudah siaga penuh. Dalam tempo 12 jam, Marinir ini akan tiba di Dumai.
Sejak itu sesungguhnya tamatlah riwayat PRRI yang dimotori para kolonel pembangkang serta tokoh PSI dan Masyumi. Pentagon tercengang.
Pasukan PRRI makin terdesak, walaupun Sumitro Djojohadikusumo sebagai wakil PRRI di pengasingan tetap optimis. Kota demi kota berhasil direbut TNI hingga akhirnya para pemberontak hanya mampu melakukan perang gerilya terbatas. Bersamaan dengan itu dukungan rakyat kepada pasukan Kolonel Simbolon, Kolonel Zulkifli Lubis, Kolonel Akhmad Husein, Kolonel Dahlan Djambek, dan sejumlah perwira menengah lainnya, makin menciut. Bahkan terjangkit perpecahan intern.
CIA gagal membaca situasi. Atas rekomendasi CIA pula sedikitnya AS telah mengedrop persenjataan bagi 8.000 prajurit pemberontak. Ini belum mencakup meriam, mortir, senapan mesin berat, dan senjata antitank. AS juga melatih sejumlah prajurit Dewan Banteng dan Dewan Gajah, yang diangkut dengan kapal selam menuju pangkalan militernya di Okinawa, Jepang. Keunggulan dalam sistem persenjataan dan pendidikan militer, ternyata bukan jaminan superioritas dalam setiap pertempuran.
Penguasa Gedung Putih mulai patah semangat. Tanda kekalahan kelompok yang dibantu, yang disebutnya "patriot" sejati itu, makin jelas. Tetapi, CIA dengan intelijen AL AS, tetap memasok informasi keliru. Dalam laporannya, kekalahan pemberontak antikomunis akan mengguncang Malaya, Thailand, Kamboja, dan Laos. Ini sangat berbahaya. Atas pertimbangan itu, AS akhirnya tetap melanjutkan bantuan pada pemberontak, khususnya Permesta di Sulawesi Utara.
Belajar dari kekalahan PRRI di Sumatera, di Sulawesi Utara penerbang AS dan Taiwan memberi perlindungan payung udara bagi Permesta. Pesawat pembom malang-melintang memutus jalur transportasi laut. Ambon, Makassar, bahkan Balikpapan dihujani bom. Korban terus berjatuhan.
Namun, semua usaha ini juga menemukan kegagalan untuk menekan Jakarta. Ofensif dibalas dengan ofensif. Jenderal Nasution terus mengerahkan pasukan terbaiknya untuk merebut satu per satu pertahanan Permesta. Puncaknya ketika ALRI menembak jatuh pesawat pembom yang dikemudikan Allen Pope, warga negara AS, di Teluk Ambon pada 18 Mei 1958. Peristiwa ini tidak saja mengejutkan publik AS, tetapi juga masyarakat internasional. Apalagi Allen Pope mengaku bekerja untuk CIA. Kecaman terhadap agresi AS mulai mengalir.
Tanpa sedikit pun merasa bersalah, AS kemudian dengan gampang putar haluan. Dari membantu peralatan perang dan pelatihan pemberontak, serta menyebarkan informasi bohong mengenai ancaman komunis terhadap stabilitas Asia Tenggara jika pemberontak kalah, Gedung Putih kemudian memutuskan membantu ekonomi dan militer Indonesia.
Namun, kebijakan baru ini bukan berarti terputusnya hubungan dengan pemberontak yang disebutnya masih punya "masa depan" itu. Melalui jaringan CIA, sejumlah senjata ringan masih dipasok bagi DI/TII di Sulawesi dan Aceh, serta Permesta di Sulut. Presiden Eisenhower menyebutnya sebagai "bermain di dua pihak".
***
KEBIJAKAN bermuka dua ini, tanpa peduli apa dan berapa banyak korban jiwa dan harta benda.
Lantas di balik selubung bahaya ancaman komunisme, AS selalu berhasil memperdayai elite militer dan politik Indonesia.
Gambaran lebih jelas mengenai Indonesia dikemukakan Presiden Eisenhower dalam konferensi gubernur negara bagian AS tahun 1953. Ia mengatakan, sumbangan AS sebesar 400 juta dollar AS membantu Perancis dalam perang Vietnam bukanlah sia-sia. Jika Vietnam jatuh ke tangan komunis, negara tetangganya akan menyusul pula. "Kita tidak boleh kehilangan Indonesia yang sangat kaya sumber daya alamnya," ujarnya.
Bagi AS, di dunia ini hanya dikenal dua blok, yaitu komunis dan liberal. Di luar jalur itu dikategorikan sebagai condong ke komunis. Maka dengan kosmetik demikianlah bagi AS tidak ada ampun untuk seorang nasionalis seperti Soekarno. Tahap pertama operasi intelijen dengan membantu dana dua partai politik besar yang disebutnya antikomunis, agar bisa merebut suara dalam Pemilu 1955. Perolehan suara ini diharapkan akan mengurangi dukungan bagi Soekarno.
Perkiraan ini meleset. PKI yang paling tidak disukai AS dan dianggap loyal terhadap Soekarno, justru memperoleh jumlah suara mengejutkan, hingga menempatkannya di urutan kelima. Padahal tujuh tahun sebelumnya, atau tahun 1948, PKI sudah dihancurkan dalam peristiwa Madiun.
Peristiwa Madiun yang diprakarsai Muso tidak lama setelah kembali dari pengembaraannya di dunia Marxisme-Leninisme di Uni Soviet, mustahil dapat dipadamkan tanpa sikap tegas Bung Karno.
CIA tidak memahami ini. Bung Karno tetap dianggap condong ke blok komunis. Itu sebabnya setelah gagal mendanai dua partai politik dalam pemilu, CIA kemudian mencoba cara lain yang lebih keras, yaitu "menetralisir" Bung Karno.
Peristiwa penggranatan tanggal 30 November 1957 atau lebih dikenal dengan sebutan Peristiwa Cikini, misalnya, tidak bisa dilepaskan dari skenario CIA. Walaupun bukti dalam peristiwa yang menewaskan 11 orang dan 30 lainnya cedera masih simpang-siur, tetapi indikasi keterlibatan CIA sangat jelas.
Pengakuan Richard Bissell Jr, mantan Wakil Direktur CIA bidang Perencanaan pada masa Allan Dulles, kepada Senator Frank Church, Ketua Panitia Pemilihan Intelijen Senat tahun 1975, yang melakukan penyelidikan atas kasus tersebut, membuktikan itu. Ia menyebut sejumlah nama kepala negara, termasuk Presiden Soekarno, untuk "dipertimbangkan" dibunuh. Bagaimana kelanjutannya, ia tidak mengetahui. Bung Karno sendiri yakin CIA di belakang peristiwa ini. David Johnson, Direktur Centre for Defence Information di Washington, juga membuat laporan sebagai masukan bagi Komite Church.
Peristiwa Cikini yang dirancang Kolonel Zulkifli Lubis, yang dikenal sebagai pendiri intelijen Indonesia, bukanlah satu-satunya upaya percobaan pembunuhan atas Bung Karno. Maukar, penerbang pesawat tempur TNI AU, juga pernah menjatuhkan bom dan menghujani mitraliur dari udara ke Istana Presiden.
Presiden Eisenhower sendiri memutuskan dengan tergesa persiapan invasi ke Indonesia sepekan setelah percobaan pembunuhan yang gagal dalam Peristiwa Cikini. Ia makin kehilangan kesabaran. Apalagi peristiwa itu justru makin memperkuat dukungan rakyat pada Bung Karno.
Ketegangan Bung Karno dengan Gedung Putih mulai mengendur setelah Presiden JF Kennedy terpilih sebagai Presiden AS. Ia malah mengundang Bung Karno berkunjung ke Washington. Dalam pandangan Kennedy, seandainya pun Bung Karno membenci AS, tidak ada salahnya diajak duduk bersama. Kennedy yang mengutus adiknya bertemu Bung Karno di Jakarta, berhasil mencairkan hati proklamator ini hingga membebaskan penerbang Allan Pope.
Begitu Kennedy tewas terbunuh, suatu hal yang membuat duka Bung Karno, hubungan Jakarta-Washington kembali memanas. Penggantinya, Presiden Johnson yang disebut-sebut di bawah "todongan" CIA, terpaksa mengikuti kehendak badan intelijen yang "mengangkatnya" ke kursi kepresidenan. Pada masa ini pula seluruh kawasan Asia Tenggara seperti terbakar.
CIA yang terampil dalam perang propaganda, kembali menampilkan watak sesungguhnya. Fitnah dan berita bohong mengenai Bung Karno diproduksi dan disebar melalui jaringan media massa yang berada di bawah pengaruhnya. Tujuannya mendiskreditkan proklamator itu. Hanya di depan publik menyatakan gembira atas kebebasan Allan Pope, tetapi diam-diam diproduksi berita bahwa kebebasan itu terjadi setelah istri Allan Pope berhasil merayu Bung Karno. Sedang pengeboman istana oleh Maukar, diisukan secara sistematis sebagai tindak balas setelah Bung Karno mencoba menggoda istri penerbang itu.
CIA terus melakukan berbagai trik perang urat syaraf mendiskreditkan Bung Karno. Termasuk di antaranya Bung Karno berbuat tidak senonoh terhadap pramuria Soviet dalam penerbangan ke Moskwa. Jauh sebelum itu, Sheffield Edwards, Kepala Keamanan CIA pada masa Allan Dulles, pernah meminta bantuan Kepala Kepolisian Los Angeles untuk dibuatkan film cabul dengan peran pria berpostur seperti Bung Karno.
Dalam satu artikel di majalah Probe, Mei 1996, Lisa Pease yang mengumpulkan berbagai arsip dan dokumen, termasuk dokumen CIA yang sudah dideklasifikasikan, menyebut yang terlibat dalam pembuatan film itu Robert Maheu, sahabat milyarder Howard Hughes, serta bintang terkenal Bing Crosby dan saudaranya.
Lantas apa akhir semua ini? (Maruli Tobing)

MAJALAH DINDING TEMPO DOELOE
Bharatayudha, Sebuah Perang Nuklir?
Sumber:website
Mahabharata, adalah sebuah wiracarita India kuno yang terkenal, berbahasa Sansekerta, yang melukiskan tentang konflik keturunan Pandu dan Dritarastra dalam memperebutkan takhta kerajaan. Bersama dengan Ramayana disebut sebagai 2 besar wiracarita India, yang ditulis pad...a tahun 1500 SM, dan hingga kini sudah sampai sekitar lebih dari 3.500 tahun.
Fakta sejarah yang dicatat dalam buku tersebut, masanya juga lebih awal 2.000 tahun dibanding penyelesaian bukunya, artinya peristiwa yang dicatat dalam buku, kejadiannya hingga kini kira-kira telah lebih dari 5.000 tahun yang silam.
Buku ini telah mencatat kehidupan dua saudara sepupu yakni Kurawa dan Pandawa yang hidup di tepian sungai Gangga, serta dua kali perang hebat antara kerajaan Alengka dan Astina. Namun yang membuat orang tidak habis pikir, kenapa perang pada masa itu begitu dahsyat? Dengan menggunakan teknologi perang tradisional, tidak mungkin bisa memiliki kekuatan yang begitu besar. Spekulasi baru dengan berani menyebutkan perang yang dilukiskan tersebut, kemungkinan adalah semacam perang nuklir!
Perang pertama kali dalam buku catatan dilukiskan seperti berikut ini: bahwa Arjuna yang gagah berani, duduk dalam Weimana (sarana terbang yang mirip pesawat terbang) dan mendarat di tengah air, lalu meluncurkan Gendewa, semacam senjata yang mirip rudal, roket yang dapat menimbulkan sekaligus melepaskan nyala api yang gencar di atas wilayah musuh, seperti hujan lebat yang kencang, mengepungi musuh, kekuatannya sangat dahsyat.
Dalam sekejap, sebuah bayangan yang tebal dengan cepat terbentuk di atas wilayah Pandawa, angkasa menjadi gelap gulita, semua kompas yang ada dalam kegelapan menjadi tidak berfungsi, kemudian badai angin yang dahsyat mulai bertiup, wuuus.... wuuus...., disertai dengan debu pasir, burung-burung bercicit panik... seolah-olah langit runtuh, bumi merekah.
Matahari seolah-olah bergoyang di angkasa, panas membara yang mengerikan yang dilepaskan senjata ini, membuat bumi bergoncang, gunung bergoyang, di kawasan darat yang luas, binatang-binatang mati terbakar dan berubah bentuk, air sungai kering kerontang, ikan udang dan lainnya semuanya mati. Saat roket meledak, suaranya bagaikan halilintar, membuat prajurit musuh terbakar bagaikan batang pohon yang terbakar hangus. Jika akibat yang ditimbulkan oleh senjata Arjuna bagaikan sebuah badai api, maka akibat serangan yang diciptakan oleh bangsa Alengka juga merupakan sebuah ledakan nuklir dan racun debu radioaktif.
Gambaran yang dilukiskan pada perang dunia ke-2 lebih membuat orang berdiri bulu romanya dan merasa ngeri: pasukan Alengka menumpangi kendaraan yang cepat, meluncurkan sebuah rudal yang ditujukan ke-3 kota pihak musuh. Rudal ini seperti mempunyai segenap kekuatan alam semesta, terangnya seperti terang puluhan matahari, kembang api bertebaran naik ke angkasa, sangat indah. Mayat yang terbakar, sehingga tidak bisa dibedakan, bulu rambut dan kuku rontok terkelupas, barang-barang porselen retak, burung yang terbang terbakar gosong oleh suhu tinggi. Demi untuk menghindari kematian, para prajurit terjun ke sungai membersihkan diri dan senjatanya.
Spekulasi perang Mahabharata sebagai perang nuklir diperkuat dengan adanya penemuan arkeologis. Para arkeolog menemukan banyak puing-puing yang telah menjadi batu hangus di atas hulu sungai Gangga yang terjadi pada perang seperti yang dilukiskan di atas. Batu yang besar-besar pada reruntuhan ini dilekatkan jadi satu, permukaannya menonjol dan cekung tidak merata. Jika ingin melebur bebatuan tersebut, dibutuhkan suhu paling rendah 1.800 C. Bara api yang biasa tidak mampu mencapai suhu seperti ini, hanya pada ledakan nuklir baru bisa mencapai suhu yang demikian.
Di dalam hutan primitif di pedalaman India, orang-orang juga menemukan lebih banyak reruntuhan batu hangus. Tembok kota yang runtuh dikristalisasi, licin seperti kaca, lapisan luar perabot rumah tangga yang terbuat dari batuan di dalam bangunan juga telah dikacalisasi. Selain di India, Babilon kuno, gurun sahara, dan guru Gobi di Mongolia juga telah ditemukan reruntuhan perang nuklir prasejarah. Batu kaca pada reruntuhan semuanya sama persis dengan batu kaca pada kawasan percobaan nuklir saat ini.
Semua temuan arkeologis ini sesuai dengan catatan sejarah yang turun-temurun, kita bisa mengetahui bahwa manusia juga pernah mengembangkan peradaban tinggi di India pada 5.000 tahun silam, bahkan mengetahui cara menggunakan reaktor nuklir, namun oleh karena memperebutkan kekuasaan dan kekayaan serta menggunakan dengan sewenang-wenang, sehingga mereka mengalami kehancuran.
Sebagai perbandingan, reaktor nuklir pada 2 miliar tahun silam pernah dimanfaatkan di Oklo, Afrika Selatan. Manusia dapat memanfaatkan nuklir untuk tujuan damai, sekaligus memanfaatkan topografi alam menimbun limbah nuklir, peradaban materiil taraf tinggi ini jelas dikembangkan melalui peradaban jiwa yang relatif tinggi, beroperasi selama 500 ribu tahun, mewakili perdamaian dan kemakmuran 500 ribu tahun. Kalau tidak, penggunaan senjata nuklir yang saling menyerang seperti wiracarita yang dilukiskan dalam peradaban India kuno, mungkin jika tidak hancur dalam 50 tahun, akan mengalami penghancuran dengan sendirinya!
Teknologi reaktor nuklir pada manusia modern baru beberapa dasawarsa saja ditemukan, hanya demi masalah limbah nuklir saja telah berdebat tiada henti, apalagi memperdebatkan yang lainnya, kita benar-benar harus merasa malu dengan manusia zaman prasejarah untuk hal seperti ini.

MAJALAH DINDING TEMPO DOELOE
Tonny dan Koes Bersaudara
Membicarakan Koes Bersaudara sama dengan membicarakan Tonny Koeswoyo sebagai penggagas dan motor grup musik tersebut.
Pengalaman musikalnya telah terasah ketika bergabung dengan suatu grup ludruk setempat di Tuban, dan mengikuti kegiatan organisasi kemahasiswaan GMNI dan HMI tentu saja hanya ...dalam urusan musik.
Kemampuan musiknya dipelajari secara otodidak dan mempelajari not balok dari Nick Manolov serta gaya pemetikan gitarnya mengikuti gitaris spanyol Carcasi dan Tjio Bun Tek - guru gitar klasik di Jakarta.
Kesuksesannya mendirikan grup musik Teenager's Voice pada 1952 dan berubah nama menjadi Irama Remaja bersama Sophian sophian memberikan kepercayaan diri Tonny Koeswoyo untuk menyodorkan Koes Brothers di tahun 1962 pada Mas Yos, pemilik Perusahaan Irama Recording.
Band ini diseleksi oleh dedengkot jazz, Jack Lesmana. Talenta Koes Brothers menarik perhatian Jack, mereka pun lolos seleksi dan langsung ditawarin rekaman.
Band ini awalnya dari lima anak anak Koeswoyo yaitu Koesdjono (Jon Koeswoyo), Koestono (Tonny Koeswoyo), Koesnomo (Nomo Koeswoyo), Koesyono (Yon Koeswoyo) dan (Koesroyo) Yok Koeswoyo.
Mereka dibantu tetangga keluarga Koeswoyo di Jalan Mendawai III/14 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan antara lain Iskandar, Tommy Darmo, Jan Mintaraga.
Band ini berlatih dengan peralatan musik sederhana dan amplifier buatan dalam negeri. Dalam perjalanan berikutnya, Iskandar dan Tommy Darmo memutuskan keluar sedangkan Jan Mintaraga menekuni hobi dan berprofesi sebagai pembuat komik.
Dengan konsep musik ala Everly Brother's dan Kalin Twin, band ini berubah nama menjadi Koes Bersaudara.
Rekaman pertama mereka Lagu Senja, Bis Sekolah, dan Telaga Sunyi. Namun sebelum rekaman ini selesai, Djon Koeswoyo mengundurkan diri karena lebih berkonsentrasi kepada pekerjaannya di sebuah kontraktor sipil.
Band ini akhirnya tinggal berempat. Posisi Jon Koeswoyo sebagai pemetik bass digantikan adiknya Yok Koeswoyo.
Rekaman mereka ternyata banyak disukai orang. Sejumlah singlenya seringkali ditayangkan di RRI dan Radio AURI. Band ini mulai dikenal tidak hanya di Jakarta.
Namun, juga sudah merambah luar Jakarta.
Singel yang direkam di piringan hitam mulai banyak dicari orang. Singel Harapanku, Kuduslah Cintamu,, Aku Rindukan Kasihmu, Angin Laut, Gadis Puri, Bis sekolah, Aku Rindu, Senja, Oh Kau Tahu, Pagi Yang Indah, Aku rindu & Awan putih laris manis di pasaran.
Puncaknya adalah ketika Kus Bersaudara merilis album pertama mereka. Sejumlah lagu seperti Dara Manisku, Jangan Bersedih, Harapanku, Dewi Rindu,, Bis Sekolah, Pagi Yg Indah, Si Kancil, Oh Kau Tahu, Telaga Sunyi, Angin Laut, Senja, dan Selamat Berpisah berhasil mengeser popularitas lagu-lagu mendayunya Rahmat Kartolo dan Alfian yang saat itu mendominasi pasar musik di Indonesia.
Kelebihan Koes Bersaudara pada saat itu ternyata ada pada diri Tonny Koeswoyo. Ia meramukan musik Koes Bersaudara dengan resep Simple is beautiful- Sederhana itu indah.
Koes Bersaudara banyak menggunakan syair yang memiliki ritme (sajak persamaan bunyi) sehingga enak dibaca dan didengarkan.
Tak hanya itu, Tonny sebagai otak Koes Bersaudara tidak meninggalkan faktor metre (banyaknya kata dalam satu baris) dan harus tepat tekanan kata pada birama, serta notasi lagu harus sesuai dengan arti kata syair tertentu.
Untuk mempertahankan originalitas lagu dan musik Koes Bersaudara, Tonny melarang adik adiknya membuat lagu. Ia juga melarang Nomo Koeswoyo (drummer) belajar memukul drum kepada Domingo Roda di Kemayoran.
Kedisiplinan, ketelatenan dan keoptimisan Tonny Koeswoyo mengasah talenta adik - adiknya bermusik dan bernyanyi menghasilkan kesuksesan show Koes Bersaudara, baik di tempat hajatan pengantin, resepsi ulang tahun, sunatan, kegiatan amal hingga menjadi musik pengisi jeda antar pemutaran film di Bioskop.
Tonny Koeswoyo bertekat untuk hanya membawakan lagu lagu ciptaan mereka sendiri walaupun dalam kenyataan dikalahkan dengan tuntutan penonton yang mengharap mereka memperdengarkan lagu-lagu Beatles, Ricky Nelson, Everly Brother's dari mulut mereka.
Keinginan memuaskan penonton tidak sebatas menyanyikan lagu The Beatles bahkan penampilan mereka berubah menggunakan jas, celana ketat, sepatu berhak tinggi berujung lancip dan potongan rambut berponi.
Situasi politik pertengahan 1960-an yang mempertetangkan antara Lekra dan Manifest Kebudayaan menjadi alasan Presiden Soekarno mengeluarkan intruksi untuk kembali kepada kepribadian dan kebudayaan Indonesia dan melarang musik Ngak Ngik Ngok.
Ketika Koes Bersaudara manggung di pesta salah seorang perwira Angkatan Laut, mereka didemo sekelompok orang 'anti nekolim'. Akhirnya, Juli 1965, mereka berempat dipaksa ditahan di Penjara Glodok.
Perubahan situasi politik di Indonesia saat itu membawa dampak terhadap Koes Bersaudara.
Setelah merasakan pahit getirnya sel penjara, keempat bersaudara ini akhirnya keluar tahanan pada 28 September 1965.
Namun, kegiatan keempat bersaudara ini masih diawasi oleh pemerintah. Meski mereka diperbolehkan keluar dan melakukan show, namun seminggu sekali Tonny dan adik-adiknya dikenakan wajib lapor ke kejaksaan.
Pengapnya ruangan sel di penjara, ternyata tak mematikan kreativitas keempat anak muda ini. Terbukti pada 1967, Koes Bersaudara mengeluarkan album Piringan Hitam mereka yang diberi judul Jadikan Aku Dombamu.
Album yang direkam Dimita Molding Ltd dengan label Mesra ini berisi 12 lagu di antaranya memotret keadaan fisik dan perasaan mereka dalam penjara.
Beberapa lagu seperti Balada Kamar 15 dan lagu ciptaan Yon Koeswoyo yang berjudul Rasa hatiku, menggambarkan perasaan mereka menghirup pengapnya sel.
Di album ini, Koes Bersaudara tidak hanya mengandalkan vokal Yon Koeswoyo dan Yok Koeswoyo tetapi untuk pertama kalinya Tonny Koeswoyo ikut menyumbangkan suaranya.
Perlahan-lahan, warna musik Koes Bersaudara mulai berubah. Seiring waktu, keempatnya semakin serius dan dewasa dalam bermain musik. Album Koes Bersaudara berikutnya adalah To The So Called The Guilties. Di album ini, keempatnya mulai memasukkan unsur rock dalam aransemen musiknya. Lagu To The So Called The Guilties, dan Poor Clown dalam album ini sarat dengan harmoni yang cukup menghentak. Tak hanya itu, Tonny menulis lirik Untukmu dengan balutan musik rock. Hal ini mematahkan pakem saat itu bahwa tidak mungkin lagu rock menggunakan lirik Indonesia. Karena peralatan yang sangat sederhana kala itu, unsur rock dimasukkan melalui cara bernyanyi Tonny Koeswoyo dan pemetikan lead guitar yang amplifiernya didistorsikan dengan menaikkan volume trebelnya secara ekstrem.
Bahkan, saat penganugerahan BASF Award tahun 1992, Achmad Albar, vokalis God Bless, secara jujur menyatakan bahwa Koes Bersaudara sebenarnya merupakan pelopor grup musik Rock di Indonesia.
Seiring dengan situasi perpolitikan Indonesia yang semakin tidak menentu, tawaran show mereka menurun drastis. Sehingga, pemasukan secara finansial menyurut pula. Karena alasan itulah Nomo Koeswoyo mengajukan alternatif untuk bekerja sambilan di luar musik. Rupanya Tonny Koeswoyo bersikukuh agar adiknya disuruh memilih 'Musik atau Bisnis'. Dengan sangat berat hati Nomo Koeswoyo meninggalkan posisinya sebagai drummer band tersebut. Keluarnya Nomo jelas sangat memusingkan Tonny. Ia pun kelabakan mencari penggantinya. Beberapa drumer termasuk Fuad Hasan drumer tersohor milik God Bles mencoba mengisi kekosongan pemain drum Koes Bersaudara tersebut. Sampai akhirnya Tommy Darmo-lah yang mengajak Murry, drummer band Patas milik Kejaksaan Agung menghadap Tonny Koeswoyo.
Dan Tonny Koeswoyo tidak hanya tertarik kepada kepiawaian Murry menggebuk drum tetapi kesederhanaan penampilannya seperti anak-anak Koeswoyo lainnya. Maka, Koes Bersaudara berubah menjadi Koes Plus. Walaupun tidak lagi berada di belakang drum, kepekaan bisnis Nomo Koeswoyo berguna sebagai Manajer Show Koes Plus. Nomo pun belakangan ternyata berhasil mengembangkan perusahaan rekaman Yukawi. Salah satu pemusik yang berhasil diorbitkan perusahaan ini adalah Oma Irama, yang kelak dikenal sebagai raja dangdut di Indonesia.
Jiwa musisi Nomo pun tak terhenti. Setelah kondisi di Indonesia relatif lebih stabil, Nomo membentuk band baru yaitu No Koes dan Nobo. Namun kerinduannya bermain bersama saudara-saudaranya, membuat tawaran Tonny untuk menghidupkan kembali Koes Bersaudara langsung disanggupinya.
Pada Januari 1977, keempat bersaudara ini mengeluarkan album Seri Perdana yang menghasilkan sejumlah hits yaitu Kembali, Cepat, Ayah, Haru, dan Bahagia. Tak hanya itu, keempat bersaudara ini juga merekam versi Pop Jawa Volume 1 yang antara lain berisi lagu Bunder Bunder.
Sayangnya usai sukses di album ini, popularitas Koes Bersaudara mulai menurun ketika mereka merilis album Volume 2. Sambutan penggemar musik Indonesia terhadap kembalinya Koes Bersaudara tidak sesuai dengan harapan Tonny Koeswoyo dan adik adiknya. Tahun 1979 Koes Bersaudara mencoba dibangkitkan lagi dengan album Boleh Cinta Boleh Benci (PL-391) yang anehnya diiringi oleh peluncuran album No Koes.
Pemunculan album dengan pembaruan konsep bermusik pada Koes Bersaudara Glodok Plaza Biru (PL-475) tidak dirasakan oleh penggemar musik di Indonesia, kecuali hanya memenuhi kepuasan kolektor album-album Koes. Demikian pula Koes Bersaudara 87 Kau Datang Lagi, disambut adem ayem oleh penggemar musik Indonesia.
Kreativitas Tonny dan ketiga saudaranya tak berhenti saat itu juga. Mereka kemudian merilis Koes Bersaudara 87 Pop Jawa yang salah satu lagunya adalah Wit Gedhang (pohon pisang). Koes Bersaudara juga sempat merilis album Pop Anak Anak yang menelurkan hits Nenek Datang.
Kedua lagu tersebut merupakan lagu terakhir Tonny Koeswoyo yang diciptakannya saat menjalani pengobatan kangker usus di rumah sakit. Pelemparan album dan pembuatan klip videonya tanpa dihadiri oleh Tonny. Sakit Tonny yang semakin parah membuat masa depan Koes Bersaudara ini semakin tak jelas. Pada 27 Maret 1987, Koestono atau Tonny Koeswoyo meninggal dunia. Wafatnya sang maestro musik Indonesia ini membuat Koes Bersaudara pun menghilang.
Discografi
15. Koes Bers Seri Perdana Kembali Jan-77 Remaco
16. Koes Bers Pop Jawa Volume 1 Mar-77 Remaco
17. Koes Bers Pop Keroncong Volume 1 Mei-77 Remaco
18. Koes Bers Volume 2 Des-77 Remaco
19. Koes Bers Boleh Cinta Boleh Benci Jul-79 Purnama Record
20. Koes Bers 80 Glodok Plaza Biru Agust-80 Purnama Record
21. Koes Bers 86 Mei-86 Flowes Sound
22. Koes Bers 87 Kau Datang Lagi Feb-87 Flowes Sound
23. Koes Bers 87 Pop Jawa Apr-87 Flowes Sound
24. Koes Bers 87 Pop Anak Anak Apr-87 Flowes Sound
25. Koes Bers Happy Birthday Apr-87 Flowes Sound
26. Koes Bers 87 Bossas Agust-87 Flowes Sound
27. Koes Bers 87 Pop Batak Agust-87 Flowes Sound
28. Koes Bers 87 Instrumentalia Bossas Agust-87 Flowes Sound
29. Koes Bers Milik Ilahi Agust-88 Flowes Sound
30. Koes Bers Pop Batak Vol 2 Mar-00 New Metro
31. Koes Bers Pop Jawa Tahun 2000 Mar-00 Black Board
*penulis
Ketua Jiwa Nusantara Koes Music Fans Club
(Wasis Susilo/KPMI)
Republika Senin, 03 Juli 2006 dan Senin, 10 Juli 2006

MAJALAH DINDING TEMPO DOELOE
Kisah Koes Bersaudara Di Penjara Glodok
Kompas 13 Oktober 2004
Pada 29 September 1965 malam, kelompok musik Koes Bersaudara dibebaskan dari penjara Glodok, setelah mendekam selama tiga bulan.
Peristiwa 39 tahun lampau tersebut masih segar dalam ingatan Koesrojo atau Yok Koeswoyo salah satu personel Koes bersaudara. Yok -k...ini berusia 62 tahun- mengenang masa-masa di penjara yang penuh tipuan, intimidasi, dan serba kekurangan sambil tertawa terkekeh-kekeh. "Kalau mau jujur, sebenarnya kami antara siap dan ndak siap masuk penjara waktu itu," kata Yok.
Menurut Yok, sebelum masuk penjara Koes Bersaudara sering bertemu Kolonel Laut Koesno, seorang perwira dari KOTI dalam kaitan konfrontasi dengan Malaysia. "Dari dia kami tahu, kami akan melakukan tugas untuk menunjukkan dunia bahwa ada kelompok yang menentang arus besar pemikiran nasional saat itu yang kekiri-kirian."
Dalam rencana, Koes Bersaudara bahkan akan diselundupkan ke Malaysia untuk melakukan propaganda ini. Namun skenario kemudian berubah setelah mereka diundang pada sebuah pesta di rumah Kolonel Koesno di Jl Djatipetamburan II A pada 24 Juni 1965. Tempat itu diserbu pemuda setempat dan kemudian tersiar luas kabar Koes Bersaudara memainkan lagu-lagu ngak-ngik-ngok, lagu-lagu The Beatles dan barat populer yang memang dilarang pemerintah.
Empat personel Koes Bersaudara, Tonny, Nomo, Yon dan Yok mulai menjalani tahanan pada Selasa, 29 Juni 1965 di kejaksaan di Jalan Gajah Mada sebelum kemudian dipindah ke penjara Glodok. Lokasinya sekarang sekitar Harco. "Saat itu, hingga kami dibebaskan pada 29 September, kami tidak pernah bertemu lagi dengan Kolonel Koesno tersebut. Jadi bagaimana kami tidak merasa tertipu?"
Intimidasi awal mereka rasakan saat baru memasuki penjara Glodok. Ketika baru memasuki lorong, mereka disambut tahanan lama dengan koor,
"Tahanan baru ... kompas ... kompas..."
Dalam situasi yang mencekam bagi empat personel itu, mereka mendadak dikejutkan sosok yang sudah lama dikenal Yok. Bambang Sembuto, seorang preman wilayah Pasar Mayestik di kebayoran baru. Sembuto berteriak lebih keras mengatasi suara napi lainnya, "He biarkan masuuk, itu teman-temanku dari Koes Bersaudara."
Menurut Yok, para penghuni penjara Glodok itu kemudian mengubah koor mereka, "Hidup Koes Bersaudara... hidup Koes Bersaudara..." Bagi Yok,"Saat itu kok suara itu kedengarnnya lebih merdu daripada sambutan penonton saat kita manggung, kata Yok terkekeh lagi.
Selama tiga bulan di penjara, empat bersaudara ini mengenal pelbagai karakter penghuni dengan segala bentuk tipu daya. Yang terakhir ini tidak dalam konotasi buruk. Nomo misalnya. Sesuai dengan gayanya yang ugal-ugalan ia pernah ingin mempelajari ilmu kebal dari seorang jawara Banten penghuni penjara.
Oleh Pak Pitang, jawara tersebut, ia diberi bekal sebuah kertas bertuliskan huruf Arab. Pitang kemudian mencobanya dengan menoreh tangan Nomo dan ternyata tidak menimbulkan luka. Nomo yang yakin dengan khasiat jampi tersebut kemduian ingin mempraktikannya di depan saudara-saudaranya. Ia menyundutkan sebatang rokok menyala ke lengannya. Akibatnya sampai sekarang di lengan Nomo terdapat sebuah luka bakar yang tidak dapat hilang.
"Tipuan" lainnya mereka rasakan oleh seorang tahanan keturunan Tionghoa, Tan Siok Gie. Tahanan asal Semarang ini masuk penjara karena membunuh seorang polisi. Ia kerap memasakkan pelbagai jenis masakan Cina dengan campuran sayur-sayuran yang ditanam di depan selnya. "setiapkali ditanya bagaimana bisa bercocok tanam dengan baik dia hanya mesem saja," kata Yok. Belakangan, mereka berempat baru tahu, sawi dan sayuran lain yang enak itu tumbuh subur dengan pupuk kotoran Tan Siong Gie sendiri.
Menjelang keluar dari penjara, mereka sempat mengalami suasana mencekam lagi. "Saat itu terjadi perkelahian massal antara dua kelompok etnis tertentu di penjara Glodok. Begitu mengerikannya sampai tubuh lawan itu dipotong-potong dan cipratan darah merah membasahi dinding penjara."
Koes Bersaudara dibebaskan pada 29 September malam. "Kami dilepaskan begitu saja pada malam hari," kata Yok. Saat itu mereka berempat agak heran karena melihat banyak kendaraan lapis baja berlalu lalang di jalan-jalan ibu kota.
Dengan melewati suasana mencekam itu mereka tiba di rumah mereka di Jalan Mendawai III No. 14 Blok C, Kebajoran Baru. Yok mengaku langsung tidur. Ia tidak pernah menduga, malam hari 30 September kemudian terjadi peristiwa yang mengubah secara total sejarah negeri ini.
(Tjahjo Sasongko)

MAJALAH DINDING TEMPO DOELOE
Kisah Bung Karno Menaklukkan Empat Noni Belanda
Sumber:roso daras
“Bung Karno sang penakluk”. Itulah judul alternatif tulisan ini. Atau… sempat pula kutulis judul yang agak provokatif: “Bule-bule Pacar Bung Karno”. Tapi akhirnya, kuputuskan judul yang sekarang, “Kisah Bung Karno Menaklukkan Empat Noni Belanda”. Sekalipun... ini urusan cinta, tapi kata “menaklukkan” terkesan lebih heroik. Kesan yang melekat secara otomatis ketika kita menyebut namanya.
Ini adalah sepenggal pengalaman hidup proklamator kita saat ia duduk di bangku HBS (Hogere Burger School), sebuah sekolah lanjutan tingkat menengah pada zaman Hindia Belanda untuk orang Belanda, Eropa atau elite pribumi dengan bahasa pengantar bahasa Belanda. HBS setara dengan MULO + AMS atau SMP + SMA, namun hanya 5 tahun. Di HBS Surabaya, ketika itu, dari lebih 100 murid, hanya 20 orang saja yang pribumi.
Pada waktu itu HBS hanya ada di kota Surabaya, Semarang, Bandung, Jakarta, dan Medan, sedangkan AMS ada di kota Jakarta, Bandung, Medan, Yogyakarta, dan Surabaya. Begitu sekelumit tentang HBS.
Nah… sebagai pemuda, Bung Karno dalam penuturannya kepada Cindy Adams, penulis biografinya, menuturkan ihwal semangatnya yang membara untuk bisa menaklukkan noni-noni Belanda, agar bisa menjadi pacarnya. Bukan saja karena rasa penasarannya sebagai laki-laki menaklukkan gadis bangsa penjajah… lebih dari itu, ia punya tujuan lain, yakni agar cepat mahir berbahasa Belanda.
Sebagai pemuda yang mengaku tampan selagi muda, Bung Karno penuh percaya diri “mengejar” gadis-gadis kulit putih. Dengan kepandaian otaknya, dengan penampilannya yang percaya diri, serta dengan tampangnya yang tampan, singkat kata Sukarno muda mulai mendapatkan gadis-gadis putih idamannya. Ia mencatat, gadis bule HBS pertama yang jadi kekasihnya bernama Pauline Gobee, anak salah seorang gurunya di HBS. Pauline dikisahkan sebagai seorang gadis yang cantik, dan Sukarno tergila-gila kepadanya.
Kemudian, cinta Sukarno beralih ke gadis putih lain bernama Laura. Ooo… betapa Sukarno juga memuja Laura. Tapi tak berlangsung lama. Perburuan cinta Sukarno, berhasil menangkap seorang kekasih bule yang nomor tiga. Mungkin Sukarno tidak benar-benar mencintai. Buktinya, ia sendiri lupa akan namanya. Yang ia ingat, gadis itu dari keluarga Raat, seorang Indo yang punya beberapa putri cantik. Yang juga ia ingat, rumah keluarga Raat adalah berlawanan arah dengan rumah yang ditinggali Sukarno. Sekalipun begitu, selama berbulan-bulan pacaran, Bung Karno rela tiap hari jalan berputar arah hanya untuk gadis pujaannya.
Nah, tambatan hati keempat adalah seorang noni Belanda nan cantik. Sukarno ingat betul namanya: Mien Hessels. Seketika, Mien Hessels mampu menutup lembaran-lembaran indah Sukarno muda bersama Pauline, Laura dan juga putri keluarga Raat. Mien Hessels telah menyihir Sukarno menjadi gelap mata. Sukarno memuja Mien Hessels sebagai “kembang tulip berambut kuning berpipi merah mawar”. Kulitnya halus selembut kapas. Rambut blondenya ikal mayang. Pribadinya memesona. Sukarno bahkan merasa rela mati untuk mendapatkan gadis pujaannya. Usia Sukarno 18 tahun, ketika itu.
Dan… Sukarno benar-benar nekad. Suatu hari, ia menetapkan hati melamar Mien Hessels. Mengenakan busana terbaik, bersepatu pula, Sukarno duduk di kamar, melemaskan lidah, menghafal kata, melatih bicara: Melamar Mien Hessels menjadi istrinya!
Sore yang cerah, Sukarno menuju rumah Mien Hessels. Begitu memasuki halaman rumahnya, hatinya menggigil ketakutan. Belum pernah sekali pun Sukarno bertamu ke rumah orang Belanda yang mewah. Halamannya ditumbuhi rerumputan laksana hamparan beludru hijau. Kembang-kembang aneka warna berdiri tegak baris demi baris. Sementara, Sukarno tak punya topi untuk dipegang. Karenanya, ia hanya memegang hati, agar tak gugup nanti.
Di hadapan seorang laki-laki tinggi besar, ayah kekasih hatinya, Bung Karno melepas kata, “Tuan… kalau Tuan tidak keberatan, saya ingin minta anak tuan….” Belum selesai Sukarno muda bicara, ayah Hessels melabraknya, “Kamu?! Inlander kotor seperti kamu? Kenapa kamu berani-berani mendekati anakku?! Keluar kamu binatang kotor. Keluar!!!”
Persis adegan sinetron konyol… Sukarno angkat kaki dengan perasaan seperti dicambuk, muka dicoreng, hati terhina. Peristiwa itu, melekat sepanjang hayat.
Tuhan sungguh mencintai Sukarno. Waktu trus berlalu… 23 tahun sejak peristiwa menyedihkan itu terjadi, tepatnya tahun 1942. Perang Dunia II tengah berkecamuk. Sukarno sendiri sudah menjelma menjadi tokoh pergerakan kemerdekaan bagi bangsanya. Suatu sore, ketika sedang berjalan-jalan di suatu jalanan di Jakarta, ia mendengar seorang wanita menyebut namanya, “Sukarno?” Berpalinglah Sukarno ke arah pemanggil seraya menjawab, “Ya, saya Sukarno.”
Wanita itu tertawa terkikik-kikik, “Dapat kau menerka siapa saya?” Sukarno memandangi wanita berbadan besar, jelek, tak terpelihara. “Tidak, Nyonya… saya tidak dapat menerka, siapakah Nyonya?” Wanita itu kembali tertawa terkikik-kikik sebelum menjawab, “Mien Hessels!” dia terkikik lagi.
Hati Sukarno menyeru, “Huhhh!!! Mien Hessels! Putriku yang cantik seperti bidadari, kini sudah berubah menjadi perempuan mirip tukang sihir, buruk dan kotor….” Sadar ia melamun, buru-buru Sukarno memberi salam kepada mantan kekasihnya di Surabaya dulu. Setelah itu, ia berpamit untuk berlalu.
Sejurus kemudian, ketika mengenang pertemuannya dengan Mien Hessels, Bung Karno mendesiskan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Penyayang. Hati kecilnya berucap, “Caci maki yang telah dilontarkan ayahnya dulu, sesungguhnya suatu rahmat yang tersembunyi….” (roso daras)

MAJALAH DINDING TEMPO DOELOE
Bung Karno dan Kisah Pembuatan Masjid Istiqlal
Masjid Istiqlal. Menyebut namanya saja terasa sejuk. Apalagi jika Anda mengunjungi dan shalat di sana. Sebuah komplek masjid yang berdiri di atas lahan 12 hektare. Bangunan masjidnya sendiri seluas 7 hektare, dengan luas lantai 72.000 meter persegi, dan luas atap 21.000 me...ter persegi. Tidak salah jika dikatakan bahwa Istiqlal adalah masjid terbesar di Asia Tenggara.
Tidak salah pula jika Masjid Istiqlal kita sebut sebagai icon negeri ini, tak ubahnya Tugu Monas dan Jembatan Semanggi. Yang membuat Istiqlal begitu spesial, itu karena sejak digagas, direncanakan, hingga dibangun, Istiqlal begitu sarat makna dan simbol.
Di antara sekian pemilik jasa atas kokoh-berdirinya Istiqlal, mustahil kita tidak menempatkan Sukarno pada posisi atas. Bukan saja karena dia Presiden yang memutuskan menyetujui pendirian Istiqlal, lebih dari itu, ia juga melandaskan pembangunan Istiqlal secara sangat filosofis, dan sangat teknis. Karena itu pula, masjid ini begitu monumental.
Dalam pemilihan lokasi, misalnya, Bung Karno terpaksa harus berbeda pendapat dengan Hatta. Bung Karno menghendaki, Istiqlal didirikan di atas taman Wilhelmina di lokasi bekas benteng Belanda Frederick Hendrik yang dibangun Gubernur Jenderal Van Den Bosch pada tahun 1834. Lokasi itu tepatnya terletak di antara Jalan Perwira, Jalan Lapangan Banteng, Jalan Katedral dan Jalan Veteran.
Bung Hatta mengusulkan lokasi pembangunan masjid di Jalan Thamrin. Alasan Hatta, karena lokasi itu dikelilingi kampung. Tidak seperti lokasi taman Wilhelmina yang relatif jauh dari permukiman. Selain itu Hatta juga menganggap pembongkaran benteng Belanda memerlukan waktu yang tidak sebentar, dan dana yang tidak sedikit.
Bung Karno keukeuh pada pilihannya. Ia melandaskan pada filosofi makna “merdeka”. Istiqlal yang bisa diartikan kebebasan, atau kemerdekaan, sangat tepat jika didirikan di atas taman Wilhelmina. Sebab, Ratu Belanda Wilhelmina sebagai representasi penjajahan di bumi Indonesia, menurut Bung Karno, harus dihancurkan, dimusnahkan, dan diganti masjid bernama “kebebasan”, Istiqlal. Simbol dan pemaknaan ini yang membuat siapa pun akhirnya menyetujui sikap dan pilihan Bung Karno.
Tidak hanya itu. Lokasi yang terletak di seberang Lapangan Banteng itu, dipilih karena berdekatan dengan Gereja Kathedral. “Istiqlal di satu sisi, Kathedral di sisi lain, berdiri kokoh dan megah dengan harmonis, adalah perlambang harmonisasi kehidupan beragama di Indonesia,” begitu kurang lebih Bung Karno memaknai lokasi Masjid Istiqlal.
Makna terakhir, menjadi sangat-sangat dalam, manakala Frederich Silaban, seorang arsitek Kristen kelahiran Bonandolok, Sumatera Utara keluar sebagai pemenang sayembara arsitektur masjid Istiqlal, yang dewan jurinya diketuai Presiden Sukarno. Adapun anggota dewan juri lain adalah Prof.Ir. Rooseno, Ir.H. Djuanda, Prof.Ir. Suwardi, Hamka, H. Abubakar Aceh, dan Oemar Husein Amin.
Masjid lima lantai, yang melambangkan kewajiban shalat umat Islam lima kali dalam satu hari, akhirnya dimulai pengerjaannya. Namun secara urutan tahun, gagasan pendirian masjid akbar di Ibukota Republik Indonesia itu mencuat tahun 1953. Setahun kemudian, 1954 didirikan Yayasan Masjid Istiqlal yang diketuai Tjokroaminoto. Tahun 1955 dilangsungkan sayembara rancang bangun atau arsitektur masjid berhadiah utama uang tunai Rp 75.000 dan emas murni 75 gram, dan diikuti 27 peserta.
Setelah melalui pendalaman desain serta persiapan matang, tepat 24 Agustus 1961, bertepatan peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW, Presiden Ir. Soekarno yang langsung bertindak sebagai Kepala Bidang Teknik, berkenan melakukan upacara pemancangan tiang pertama pembangunan Masjid Istiqlal.
Sebagai “tukang insinyur”, kita harus tahu bahwa Bung Karno ternyata memiliki suatu obsesi tersendiri terkait kekokohan bangunan masjid. Bung Karno sendiri yang melakukan pengawasan teknis pembangunan masjid sejak fase pembangunan pondasi. Kepada sejumlah orang dekat, bukan sekali-dua Bung Karno mengatakan ambisinya untuk membangun masjid yang kokoh.
“Jika Candi Borobudur yang dibangun leluhur kita untuk mengagungkan Budha bisa tahan ratusan tahun, maka saya ingin Masjid Istiqlal tidak hanya tahan ratusan tahun, tetapi ribuan tahun!” begitu tekad Bung Karno, seraya melanjutkan, “agar kelak anak-cucu kita paham, bahwa Presiden Indonesia yang pertama sangat mencintai Islam.”
Suatu ketika, Bung Karno pun membangun Tugu Monumen Nasional (Monas), sebagai icon Indonesia yang lain. Proyek itu, tak urung mengundang pertanyaan orang, termasuk orang-orang dekatnya. Satu di antara mereka ada yang bertanya kepada Bung Karno, tentang skala prioritas pembangunan Monas dan Istiqlal. Apa kata Bung Karno, “Prioritaskan pembangunan Tugu Monas!”
Jawaban itu cukup mengejutkan. Hingga akhirnya ia melanjutkan kalimat, “Mengapa harus Monas yang diprioritaskan? Jika saya mati saat Monas dan Istiqlal dibangun, maka bisa saya pastikan, Istiqlal PASTI selesai. Sebab, membangun masjid adalah membangun rumah Tuhan, sehingga sekalipun saya mati ketika masjid itu belum selesai, tak satu pun yang bisa menghentikan pembangunannya. Tapi tidak demikian halnya dengan Monas. Jika saya mati, belum tentu pengganti saya meneruskan pembangunannya.”
Seperti fatwa pujangga sakti, Sukarno seperti meramal nasibnya sendiri. Pembangunan masjid Istiqlal melambat tahun 1960. Setelah itu, masih banyak proyek mercu suar dibangun, hingga klimaksnya terjadi peristiwa G-30-S. Masjid yang direncanakn memakan waktu pembangunan selama 45 tahun dalam pelaksanaannya jauh lebih cepat. Bangunan utama selesai 6 tahun sejak dipancangkan tiang pertama, tepatnya 31 Agustus 1967 ditandai dengan berkumandangnya adzan maghrib yang pertama.
Saat itu, Sukarno sudah tidak lagi berkuasa. Sukarno benar, pembangunan masjid tidak jalan terus. Secara keseluruhan pembangunan masjid Istiqlal selesai dibangun dalam kurun 17 tahun. Peresmiannya dilakukan pada tanggal 22 Februari 1978, oleh Presiden Soeharto. Sementara Bung Karno, seperti takdir yang telah tertulis, sudah wafat pada 21 Juni 1970.
Sementara di seberang sana, Tugu Monas tegak berdiri. (roso daras)

MAJALAH DINDING TEMPO DOELOE
Personel Koes Plus
TONY Koeswoyo
Tony adalah pemain musik berbakat tinggi sekaligus pencipta lagu yang handal. Dia juga yang memacu adik-adiknya untuk membawakan lagu ciptaan sendiri. Dia mahir memainkan gitar (melody), keyboard dan piano. Dibandingkan dengan Beatles, dia seperti gabungan antara John Lennon, Paul dan Goe...rge. Permainan pianonya sangat menonjol dalam lagu-lagunya.
Nada-nada yang dipilihnya sederhana, tetapi sangat berperan dalam mempercantik lagu yang dimainkan. Coba simak lagu Why Do You Love Me atau Jangan Berulang Lagi (Volume IV) atau Menanti (dari album Volume 5). Dia juga sangat mahir memainkan melodi gitar. Hampir semua lagu mereka yang berirama rock and roll pasti diisi dengan permainan melodinya. Simak misalkan lagu Rata-Rata (dari album Volume 14) atau Tradisi ( dari album Volume 7).
Masih banyak lagu-lagu Koes Plus yang tidak menggunakan alat musik keyboard atau piano yang menonjolkan permainan gitarnya. Album khusus bereka yang berisi lagu-lagu demikian adalah: Album Hard Beat, Folk Song, dan History of Koes Brothers. Lagu-lagu dari album ini antara lain : Jemu, Oh Kasihan,Liku-Liku Laki-laki, Kemana, Hari Minggu, Kala-Kala dan lain-lain. Lagu-lagu karangan Tony hampir semua populer: Kisah Sedih di Hari Minggu, Cintamu t'lah Berlalu, Derita (Volume 1), Kr. Pertemuan ( Volume 4), Nyanyian Malam (volume 7), Diana (Volume 8),Terlambat, O La La ( Volume 9), Kapan-Kapan (Volume 10), Kota Lama (Volume 11), Cinta Buta ( Volume 12), Bali, Katresnan (pop jawa Volume 1), I will come to You ( dari album Another song for You).
Harus diakui melodi-melodi Tony banyak dipengaruhi oleh lagu-lagu Beatles dan John Lennon. Tapi pengaruh musik etnis juga kental dalam lagu Koes. Di lagu Bali (pop jawa), akan kita dengar nada-nada seperti suara gamelan. Dalam lagu Nusantara IV (volume 10), nyata seklai pegaruh gendhing Jawa, dimana nada-nada pentatonis begitu menonjol. Hampir di setiap pose fotonya, Tony selalu tersenyum. Inilah trade mark Tony. Suatu ekpresi yang menggambarkan keramahan, keoptimisan, percaya diri dan tidak egois.
Tahun 1987 Tonny meninggal dalam usia 50 tahun. Indonesia sangat kehilangan musisi sekaligus pencipta lagu hebat di samping Ismail Marzuki, Titik Puspa, dan Oma Irama. Tetapi sayang sambutan masyarakat terhadap kepergian Tony sangatlah minim seperti biasanya rakyat Indonesia menghargai tokoh dari bangsanya sendiri. Dia diperlakukan seperti bukan bekas bintang. Hanya beberapa koran memasang berita kepergiannya. Setelah kepergian Tony praktis lagu-lagu Koes Plus tidak bertaring lagi.
YON Koeswoyo
Anggota yang kedua adalah Yon Koeswoyo. Vokalis utama Koes Plus ini tidak menonjol dalam bermain musik. Dia hanya memainkan ritem gitar. Tetapi suaranya yang bening menjadi kekuatan lain dari Koes Plus. Dia juga pencipta lagu yang handal.
Kebanyakan lagu-lagu Yon adalah lagu bernada sendu, seperti: Hidup Yang Sepi (Volume 1), Penyesalan ( Volume 5), Untuk Dia ( Volume 10), Hatiku Beku (Volume 9). Paduan suaranya bersama anggota yang lain Yok, sangat menonjol dan menjadi ciri khas Koes Plus. Terkadang juga suaranya dipadu dengan suara Tony. Simak lagu: Hatiku-hatimu (dari album the History of Koes Brothers), Nusantara V (Volume 11), atau di reffrain lagu Kau Bina Hidup Baru (Volume 9, ciptaan Murry), di sana sangat kelihatan perpaduan itu.
Suara Yon yang bening memang menjadi daya pikat tersendiri bagi Koes Plus. Suara Yon kelihatan sangat genit dalam lagu-lagu keroncong : Penyanyi Tua ( Volume 1, album keroncong) atau Penyanyi Butuh Uang atau Gadis Manis ( dari album keroncong yang lain). Yon dikenal sebagai pribadi yang pemalu. Tidak heran ketika manggung sedikit sekali dia mencoba berkomunikasi dengan penonton.
Yok Koeswoyo
Yok adalah pemain Bas. Dia paling urakan di panggung. Suaranya nge-rock. Tetapi bisa juga sangat halus. Lagunya yang sangat terkenal adalah Maria ( Volume 11) dan Mawar Bunga ( Volume 12I). Maria adalah nama istrinya yang meninggal dunia karena kecelakaan.
Itu terjadi setelah mereka menyelesaikan album Volume 9. Kedua lagu tersebut berirama sangat sendu. Pernah dinyanyikan ulang oleh Endang S. Taorina. Suara Yok yang tinggi sangat pas didampingkan dengan suara Yon. Maka perpaduan keduanya menjadi ciri khas Koes Plus yang sukar dicari tandingannya hingga sekarang. Coba simak reffrain lagu Kau Datang Lagi, di sana akan terdengar suara Yok yang melengking tinggi.
Dalam Koes Plus formasi awal ketika merekam serial Koes Plus album volume I, setelah Nomo keluar dari Koes Bersaudara, Yok tidak terlibat. Posisinya diganti Toto AR. Dia beralasan bahwa sikapnya itu sebagai bentuk solidaritasnya terhadap kakaknya, Nomo. Nomo dipaksa Tony untuk memilih bermusik atau kerja lain. Karena bermusik di waktu itu belum menjamin kehidupan ekonomi, akhirnya Nomo keluar dari Koes Bersaudara.
Dalam Koes Plus formasi terakhir Yok tidak ikut bergabung lagi. Lagu-lagu ciptaannya : Jangan Sedih (Volume IV), Sonya (Volume V), Di mana Hatimu (Volume 8), Nusantara III (Volume IX), Jangan Cemburu (Volume IX), Pantai Bali (Volume X), Jemu (Hard Beat) dan masih banyak lagi. Permainan basnya cukup menonjol dalam lagu Kala-kala atau Jangan Sedih.
Murry
Dia adalah plus dalam Koes Plus. Dialah satu-satunya anggota Koes Plus yang bukan dari keluarga Koeswoyo. Pukulan drumnya yang khas telah memberi warna tersendiri bagi Koes Plus. Pukulan drumnya mungkin tidak akan terasa bagus kalau dia bermain dengan kelompok lain. Tetapi digabung dengan permainan keyboard Tonny, pukulannya terasa istimewa.
Sebagai pemain drum dia tidak hanya pelengkap. Permainan drumnya menjadi ciri khas dari lagu-lagu Koes Plus. Mendengarkan lagu Koes Plus dan Koes Bersaudara akan terasa beda begitu mendengar pukulan drumnya. Kombinasi pukulan drumnya dan permianan keyboard Tony, banyak mewarnai intro lagu Koes Plus. Dia juga mencipta beberapa lagu yang cukup populer.
Diantara lagunya adalah Pelangi, Doa Suciku, Bertemu dan Berpisah, Hidup Tanpa Cinta, Semanis Rayuanmu, Kau Bina Hidup Baru, Ayah dan Ibu, Bujangan, Pak Tani, Mobil Tua, Cobaan Hidup, Cubit-cubitan. Murry benar-benar plus dalam artian memberi nilai plus kepada Koes. Lagu Koes Plus yang paling dia sukai adalah Tiada Kata Terlambat (vol XIV).
Lagu yang diciptakan dan dinyanyikan Tony. Tony sendiri hampir selalu terlibat memberi backing vocal untuk setiap lagu yang diciptakan Murry. Mungkin ini sebagai bentuk sikap perlakuan istimewa Tony sebagai pimpinan Koes Plus terhadap anggota bukan dari keluarga Koeswoyo. Dengan demikian Murry tidak merasa menjadi orang lain dalam Koes Plus. (sumber: students.ou.edu/S/ Budi.Santosa-1/Personel.htm)
4 foto baru



















































