LETTO & PLETTONIC
Tetap Semangat dan Teguhkan Hati!!! Sampai nanti sampai Mati!!!
Informasi
Anggota:
Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe) Vocalist.
Agus Riyono (Patub) Guitarist.
Ari Prastowo (Arian) Bassist.
Dedy Riyono (Dhedot) Drummer.

- Cornelius Prapaska (Cornel) Rhytem.
- Widiyantoro (Widy) Keyboard.

http://lettolink.com/about
======================================
Genre:
Korelator (think 'bout it)
Kota Asal:
Yogyakarta
Perusahaan Rekaman:
Musica Studio
Foto

2 dari 10 albumLihat Semua

mas noeDibuat sekitar 7 bulan yang lalu
mas PATUBDibuat sekitar 7 bulan yang lalu
Diskografi
Tautan

3 dari 21 tautanLihat Semua

 
“Kami Putra-Putri Indonesia, sudah berbangsa satu, Bangsa Indonesia”
“Kami Putra-Putri Indonesia, sudah berbahasa satu, Bahasa Indonesia”
“Kami Putra-Putri Indonesia, sudah bertanah air satu, Tanah Air Indonesia “


Jangan pernah sedetikpun kau lupa akan pekikan : Merdeka atau mati !!!!.
Jangan pernah sedetikpun kau lupakan bahwa hanya Kematian yang pantas
dipertaruhkan sebagai harga dari sebentuk Kemerdekaan.


28 oktober 1928 para Pemuda mengumandangkan Mahatekat yang bernama Sumpah
Pemuda



dierami dengan kesungguhan dan keteguhan,
16 Tahun, 9 bulan, 17 hari kemudian, Menetaslah Bangsa ini.
Sang Bangsa Garuda.


Dan hari ini, Garuda itu siap untuk terbang keangkasa raya.
Membelah langit dan menunjukkan jati dirinya.
Dan disinilah letak Pemuda.


tidak ada jalan lain yang dijalani kecuali jalan Martabat, demi bangsa Indonesia
tidak ada pilihan lain yang dipilih kecuali pilihan Kedaulatan, demi bangsa Indonesia
tidak ada kata tidak untuk sanggup Berbuat dan berani Bertanggung jawab, demi Tanah Air Indonesia.


Hari ini Indonesia bukan lagi “Merdeka atau mati !”
Hari ini Indonesia adalah “Berubah atau punah !”


====
Sabrang Mowo Damar Panuluh pada 28 Oktober 2009,
Persembahan Untuk Negeri
Inspirasi itu bisa datang dari mana saja…bahkan dari seorang anak kecil yang berlarian tanpa celana di keramaian pasar. Sang ibu mengejar sambil mengacungkan tangan memegang celana pendek dengan mulut tak henti memanggil nama si kecil. Tertangkap! Si kecil lalu terkikik dikitik-kitik ibunya.
“Duh, naak…belom pake celana kok sudah lari-lari…malu loh…” Ibu itu lalu menciumi anaknya penuh sayang, lalu kembali berjualan. Si anak masih menggelayut manja di sampingnya. Ibu itu, penjual sayuran di pinggir jalan. Beralaskan terpal dari karung dengan payung besar untuk bernaung. Berdua, dengan anaknya, sambil sesekali menjajakan dagangan, “Sayur, Bu? Sayur…?”…

Teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu, seorang anak tetangga jatuh. Sang ibu datang dengan cepat menghampiri, berlari. Tapi langsung mencak-mencak, malah ditambahin “puk” di pantat sang anak… Duhh, bukan salah si batu yang disandung, bukan salah si kecil yang tersandung. Ibu, “puk” itu juga bikin sakit …

---

Pernah kebayang gak , apa yang akan kita lakukan seandainya tau umur kita tinggal 3-2-1 tahun? Atau bahkan mungkin ada dalam hitungan bulan, minggu, hari??? Ketika kita sakit parah, mungkin renungan tentang resolusi menjalani hidup tiba menjadi penguat hati untuk cepat sembuh. Ketika kerabat meninggal, menjenguk orang sakit, atau hanya dari melihat reality show “tolooong…tolooong”, hmm…. Hidup ini pelajaran yang dipelajari, dan kita belajar mempelajarinya…

Mensyukuri apa yang ada tak cukup teman. Nilai hidup lebih dari itu. Rasa syukur memberi kita tempat untuk menikmati hidup. Memberi rasa bahwa apa yang kita sudah jalani, itulah yang terbaik kita dapat. Tak perlu mendongak ataupun menunduk. Apapun itu, yang sanggup kau raih dan ada digenggamanmu. Disyukuri …. Tapi hidup tak hanya sendiri. Masih ada kawan dan lawan untuk berbagi. Lawan?? Berbagi? Hmm…

Lawan adalah musuh utamamu. Lawan yang yang tangguh, bikin keki dan bisa membuatmu kalah telak! Kalah terhadap harga diri, prestasi, bahkan tubuh, dirimu sendiri. Lalu hidupmu diusung rasa benci, dendam, dan iri hati. Merasa dirimu paling benar tapi tak benar. Merasa dirimu pintar tapi menjadi hal terbodoh yang pernah terlihat. Merasa dirimu penuh kasih sayang tapi wajahmu kecut buah dari kebencian. Merasa dirimu hebat tapi berbentuk kemunafikan. Merasa dirimu sehat tapi nyata parumu tergerogoti asap yang kau hirup, otakmu, hatimu, jantungmu, nyawamu…(fiuuuhh…).

Hmm…lantas apa yang kita lakukan? Ternyata hanya menggumam, nggrundel dan diam di tempat. Ah…pikirkan baik-baik teman, lawan apa yang hendak kita kalahkan? Dirinya? Dirimu? Nafsumu? Amarah? Angkara? Apakah ia berwujud sepertimu, atau bahkan berbentuk bongkahan batu besar yang pongah kau tanam di dalam bawah sadarmu . Apapaun itu, temukan dan berbagilah…. Berbagilah kebaikan dengannya.

Kebaikan apa yang telah kita lakukan? Kebaikan apa yang akan kita lakukan? Mungkinkah lawan menjadi kawan? Jika besok adalah ajalmu, berapa banyak lawan yang kau ajak berteman hari ini? Jika besok adalah ajalmu, lihatlah sekelilingmu. Santun ucapmu penuh kasih sayang, indah lakumu berbagi cinta. Apa yang ada dihadapanmu, yang teraih oleh genggamanmu adalah anugerah terbaik yang bisa kau bagi dengan yang lain. Besok adalah ajalmu. Nantikan ia dengan suka cita…


salam,

Tetap Semangat dan Teguhkan Hati! Sampai nanti sampai Mati!!


Pelangi itu adalah sebuah spektrum pantulan cahaya pada kemilau air. Berkilau diterpa cahaya gemilang. Gemilang yang terpantul kembali ke udara. Udara yang memenuhi rongga dada. Bernafas…menghela…bernafas… Bersyukurlah, kau masih hidup! Hidup berjalan di atas warna spektrum itu…. Warnailah, tak hanya biru, magenta, atau kelabu…


Jiwa yang kuyu
terseok kepedihan
terjerembab dalam dendam
tersekat kata tak bertuan
Akhiri,
Dengan kata maaf pada dirimu

Lalu kau ulurkan tanganmu
Jika tak tergapai tangan itu apakah akan datang kesedihanmu yang lain?
Akhiri,
Dengan kata maaf pada dirimu

Lalu kau tarik garis bibir di wajahmu, menyeruak di antara harap menemukan kembali senyumnya….
Jika tak terlukis keindahan di wajahnya, apakah akan kau tutup rapat katup bibir yang sudah tersungging indah?
Akhiri,
Maafkanlah dia…

Lalu berjalanlah pada sepktrum keindahan duniamu
Mungkin dunianya bukan lagi milikmu
Jika suatu waktu kau tolehkan hatimu pada wajah yang bermuram durja
Berbahagialah…karena keceriaan hatimu tak dimilikinya
Berbahagialah….dan teruslah melangkah

Lalu kau tak sampai hati meninggalkan kenangan itu
Dan kembali mengulurkan tangan manismu
Akhiri,
Dengan kata maaf pada dirimu

Spektrum lembut menyelimuti jiwa
Pelangi keindahan, mata bening semburat warna-warni
Dia tersenyum dalam dunianya
Kau tersenyum dalam duniamu
Kalian menemukan damai




See? Magenta, U’ll be all-bright…:)


Lihat catatan lainnya