Dialog interaktif yang rencananya akan diadakan di Gramedia terpaksa saya batalkan karena tempatnya yang tidak memadai untuk acara talk show di akhir minggu. Saya dan distributor pun kemudian berencana untuk memindahkannya ke salah satu universitas di sana. Tetapi lagi-lagi saya terbentur masalah jadwal. Saya tidak bisa talk show di hari kerja.
Mendengar rencana talk show saya di Gramedia batal, sepupu saya mengatakan bahwa teman-teman dan beberapa ibu-ibu yang sudah membeli dan membaca buku GOOD LAWYER di Lampung, ingin bertemu saya, meminta tanda tangan dan berfoto bersama.
Antara senang karena tahu bahwa GL ternyata juga sudah punya penggemar di Lampung dan ragu karena jadwal talk show menjadi tidak pasti, saya mengatakan, "Ajak saja mereka datang ke acara kita, saya pasti ada di sana!"
My mom, as usual selalu punya ide brilliant. Dukungannya yang sangat besar kepada usaha dan misi saya, membuatnya berpikir 'Kenapa tidak kita adakan saja talk show di rumah? Toh rumah di sana besar dan sanggup menampung lebih dari 200 orang!'
Keluarga besar kami kebetulan akan mengadakan acara pertemuan keluarga dalam rangka merayakan ulang tahun beberapa anggota keluarga secara berbarengan, tanggal 23 Mei ini.
So, jadilah my mom and sisters, dibantu oleh sepupu saya tadi menyulap ruangan yang tadinya hanya akan dipakai untuk acara pengajian dan ulang tahun, menjadi tempat untuk talk show juga!
Mom, and my whole family berangkat hari Jumat, sementara saya dan Mas Dwi menyusul Sabtu pagi karena kami masih harus masuk kerja pada hari Jumat.
Dan sampailah saya dan Mas Dwi tadi pagi di Lampung. Sejak awal Mei, Garuda sudah memiliki penerbangan ke Lampung, jadi sedikit agak lega juga untuk naik pesawat karena sebelumnya hanya ada Sriwijaya Air yang kalau sedang di udara rasanya seperti naik metro mini terbang! *hihi... Sorry Sriwijaya, but that's what really I felt everytime I flew you!
Meski dengan pendaratan yang sedikit mengerikan karena hentakan landing yang keras, saya masih tetap bersyukur tidak terjadi apa-apa. 'Jadi makin takut naik pesawat nih', batin saya. Tapi daripada memikirkan pendaratan yang lumayan menegangkan, lebih baik saya alihkan pikiran kepada Bakmi Koga yang memang menjadi bakmi favorite kami setiap ke Lampung. (Bohong deng, saya memang sudah berencana ingin makan bakmi dulu sebelum check in di Sheraton *hihi...)
***
So, sampai di sini sudah tahu dong pasti, siapa saja audience talk show kali ini? By the way, saya lebih suka pakai istilah dialog interaktif saja supaya tidak terkesan orang menonton saya 'ngoceh' :)
Betul sekali, audience saya kali ini para ibu! Mulai dari ibu-ibu yang masih muda, sampai yang sudah tua. Terus terang, saya tadinya agak khawatir apa yang akan saya sampaikan akan sulit mereka terima, mengingat saya jarang sekali bergaul dengan ibu-ibu, bahkan saya tidak pernah ikut acara arisan! :D
But nothing can stop me from my mission! I mean, ibu-ibu ini benar-benar asli masyarakat yang awam hukum, jadi ini adalah tantangan terbesar saya!
Melihat backdrop GL yang terpasang di dinding, para ibu tersebut sudah demikian excited. Menurut ibu saya, mereka memang benar-benar menunggu kedatangan saya! Isn't that so exciting? :))
Dan memang benar! Ternyata berdialog soal hukum dengan cara sederhana dengan para ibu ini begitu menyenangkan!
Tentu saja karena sebagian besar dari mereka adalah ibu rumah tangga dan hidupnya di desa, bagian yang paling menarik perhatian mereka adalah kasus hukum yang berkaitan dengan KDRT, pelecehan seksual, poligami, perkawinan, dan perceraian! Saya melihat binar semangat di mata ibu-ibu itu setiap mereka bertanya. Bukan hanya karena mereka memang ingin tahu lebih jauh mengenai hukum yang bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari mereka, akan tetapi mereka seperti menemukan tempat untuk menyampaikan unek-unek mereka dan segala pertanyaan yang selama ini hanya mereka tahu dari 'katanya si ini' dan 'katanya si itu'.
Setiap kali saya selesai menjawab satu pertanyaan, setidaknya dua tiga orang kemudian mengacungkan tangan lagi untuk bertanya. Ketika saya menerangkan sambil mengeluarkan pertanyaan kepada mereka, hampir semua mengangkat tangan untuk berusaha menjawab. Sangat menyenangkan berdialog dengan orang-orang yang aktif dan benar-benar mengikuti diskusi yang saya adakan.
Bahkan seorang ibu sempat mendebat saya ketika saya menceritakan satu bagian dari cerita di buku GL yang berkisah tentang perjuangan seorang mantan PSK untuk mendapatkan keadilan yang sama di mata hukum kita. Ibu itu mengangkat tangannya dengan penuh semangat ketika saya mengatakan sambil bertanya 'jika ada seorang mantan PSK, apakah kita harus memperlakukan mereka berbeda?'
Ibu ini menjawab "Saya kurang setuju! Iman seseorang itu naik turun. Kalau kita bergaul dengan mantan PSK, nanti kalau imannya dia sedang turun, kita bisa ketularan!"
Polos ya argumennya? :)
Di sinilah tantangan bagi saya untuk membuka pikiran ibu-ibu ini.
Saya berusaha menjelaskan mengenai kedudukan setiap warga negara di mata hukum kita. Tapi tampaknya kalau saya bicara ini, penjelasan saya tidak akan masuk. Saya pun kemudian masuk kepada cara yang paling sederhana dengan mengajaknya memahami bahwa iman seseorang tidak bisa dikontrol oleh siapapun kecuali dirinya sendiri. Jika kita ingin mendapatkan masyarakat dan lingkungan yang lebih baik, maka kita harus bahu membahu saling membantu dan tidak membeda-bedakan orang dengan melihat pekerjaannya, apalagi kalau dia seorang mantan PSK yang ingin 'bertobat' kenapa justru ingin dimusuhi? Satu pertanyaan saya membuatnya tersenyum malu dan menunjuk ibu-ibu di kompleknya "Atau ibu takut suami ibu tergoda ya Bu?"
Ibu itu menjawab "Ah nggak... Itu tuhhh ibu-ibu komplek kan suka begitu..."
Di deretan lain, ibu-ibu yang merasa tinggalnya di komplek perumahan langsung menyanggah "Ihhhh enak ajaaa... Kita biar tinggal di komplek nggak pernah begituuu...." Dan tawapun menghiasi seluruh ruangan.
Pada diskusi yang lain, seorang ibu memberi contoh tetangganya yang suka menuduh para janda menjadi penyebab keretakan rumah tangga orang. Seperti biasa, alert saya langsung berbunyi dengan kencang ketika mendengar kata 'janda'. Sayapun nyeletuk "saya janda juga niiih..." Si ibu buru-buru minta maaf karena katanya hanya memberi contoh! Hehehe... Tawapun menggema lagi.
Lalu, ketika microphone sudah di tangan saya lagi, saya bertanya kepada para ibu "Ibu-ibu kalau saya berkenalan dengan suami-suami ibu, pada khawatir nggak bu?"
Koor jawaban "Nggaaaaaak..." pun langsung terdengar.
"Kenapa nggak bu? Kan saya janda? Cantik lagi bu...hahahaha...." tanya saya lagi sambil bercanda.
"Ya tergantung jandanya juga, Mbak...kalau dia nggak bener ya pasti kita nggak suka laaah" celetuk salah seorang ibu.
Dan diskusi soal janda pun begitu 'meriah' dan menghasilkan pertanyaan hukum mengenai perceraian, hak asuh anak, sampai proses perceraian yang mereka pikir sangat complicated. Saya berusaha menjelaskan satu persatu dengan pendekatan 'keperempuanan dan hukum' sehingga wajah puas pun akhirnya saya dapatkan dari mereka.
Salah seorang ibu yang juga kelihatannya sering menjadi pembicara, bahkan sangat bersemangat mendukung program 'melek hukum' bagi para perempuan di tanah air! Hebat ya? :))
Bicara soal KDRT, para ibu pun sangat paham bahwa mereka sudah seharusnya mengerti hak-hak mereka untuk hidup aman dan terlindungi secara hukum di dalam rumah tangga. Ketika sampai pada topik "Apakah kalau sedang tidak ingin melayani hasrat seksual suami dan dipaksa melayani juga, bisa disebut bagian dari KDRT?"
Seorang ibu mencontohkan bahwa menurut agamanya, jika menolak melayani hasrat seksual suami nanti tidak masuk surga.
Dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang saya lontarkan seperti "apakah ibu merasa terpaksa di awal dan ikut menikmati setelah terpaksa melakukannya?" membuat tawa kembali membahana. Penjelasan dari pertanyaan-pertanyaan seperti ini berusaha saya hubungkan dengan hukum yang ada di negara tanpa mempertentangkannya dengan anjuran agama. Meski saya merasa tidak begitu pandai bicara soal hukum agama, jawaban-jawaban saya tetap mendapat respon yang sangat positif dan tepuk tanganpun menggema di ruangan.
Bertubi-tubinya pertanyaan dan antusiasme ibu-ibu inipun sampai membuat suara saya serak juga. Di session terakhir, selain karena pertanyaannya agak teknis, saya mengundang Mas Dwi yang sedari awal begitu antusias juga melihat semangat para ibu ini untuk berbagi pengetahuan hukum dengan mereka.
Dua jam berlalu, suara saya serak, dan saya batasi sampai dengan 3 pertanyaan terakhir. Para ibu sangat menikmati dialog interaktif ini sehingga waktu dua jam bagi mereka tidak terasa, dan sedikit menyalahkan saya karena hanya sebentar bertemu mereka.
Setiap penanya mendapatkan kaos GOOD LAWYER, tapi sayangnya mereka tetap ingin terlihat cantik dengan baju muslim mereka masing-masing. Selain itu, kaosnya juga beberapa tidak muat! *lol so, mereka bilang, "dipajang di depan dada aja yaaaa...." :))
Ketika sessi foto bersama, mereka memeluk saya erat-erat dengan gemas, semuanya ingin berfoto di sebelah saya. Mengharukan ya? :)
Sampai di sini tampaknya saya harus menyudahi reportase saya. Sebuah pengalaman yang mengharukan, menyenangkan, dan menimbulkan pengalaman baru yang sangat berharga buat saya.
O ya, buku yang saya bawa dari Jakarta habis lho diborong oleh ibu-ibu ini! Tidak sia-sia saya membawa banyak buku untuk dijual langsung di tempat! Yippieee!!! :))
*Bandar Lampung, 24 Mei 2009 dini hari, ditulis sambil menonton kualifikasi F1 di global TV*
Kunjungan saya ke Medan memang tadinya bukan khusus untuk acara promo buku GOOD LAWYER. Saya hanya kebetulan diajak Mas Dwi untuk ikut ke Medan karena Mas Dwi ada seminar di sana.
Biasanya persiapan talk show memang sudah diatur dari jauh hari, tapi ide tiba-tiba saya ini tetap mendapat sambutan yang baik dari distributor saya, Ibu Jenni. Persiapanpun dilakukan dalam waktu yang sangat singkat.
Saya tidak kenal siapapun di sana. Begitu tiba di Medan, Mas Dwi langsung mengikuti seminar sementara saya langsung berkoordinasi dengan pihak Gramedia dan satu lagi yang sangat penting, fotografer. Karena saya selalu mendokumentasikan semua kegiatan saya sejak awal, saya merasa harus tetap memiliki dokumentasi untuk talkshow saya di Medan ini. Untunglah saya diperkenalkan kepada seorang fotografer yang handal sehingga moment-moment penting di acara tersebut dapat diabadikan dengan sangat baik.
Awalnya saya sempat pesimis karena kami sama sekali tidak punya waktu untuk mengumumkan mengenai acara ini. Saya hanya mengirimkan sms kepada teman-teman yang saya kenal untuk mengundang teman-teman atau kerabat mereka yang ada di Medan. Saya juga mempergunakan media facebook untuk mengumumkan acara ini, tapi seperti yang sudah-sudah, hehehe… media undangan melalui facebook tidak terlalu efektif.
Tetapi dalam keadaan terjepit memang segala hal harus diupayakan. Meskipun pengunjung yang duduk di kursi yang telah disediakan hanya sedikit, saya justru merasakan suatu tantangan baru. Sebagai penerbit dan penulis baru, saya merasa ‘duduk-duduk saja’ bukanlah hal yang tepat dilakukan untuk menarik minat para pengunjung toko buku. Dan saya sangat percaya bahwa kekuatan berkomunikasi melalui ‘campaign’ adalah hal yang sangat ampuh untuk menarik minat orang mendengarkan. I’m not a celebrity, nor an actress, so who’s gonna see me?
But then, I learnt something from there. The power of your speech would attract people to listen to you. Saya tahu meskipun mereka tidak duduk di kursi yang disediakan, mereka mengamati saya dari kejauhan sambil berdiri di tempat mereka melihat-lihat buku. Tidak hanya kepada yang duduk di hadapan saya komunikasi saya lakukan, akan tetapi saya juga berusaha menjangkau para pengunjung yang berdiri di kejauhan. Hasilnya sangat mengejutkan, mereka mendengarkan ‘campaign’ saya dan ketika saya sapa dari tempat saya berdiri, beberapa dari mereka tersipu malu. Bahkan seorang bapak yang tadinya hanya mencuri-curi pandang dari kejauhan sambil pelan-pelan mendekat dan berpindah-pindah tempat, saya sapa dan kejar! Hihihi…
:: Sukses adalah ketika kita bisa berkomunikasi dengan banyak orang untuk menyusupkan apa yang ingin kita sampaikan kepada mereka. Bagi saya, sukses bukan hanya dilihat dari target penjualan yang tercapai dalam waktu singkat, tapi juga dengan mengetahui apakah misi yang ingin kita capai dalam buku yang kita terbitkan bisa membawa perubahan berarti dalam cara pandang dan pikir seseorang. Dan itu yang telah saya lakukan. At least, menjadi diri sendiri dan tampil di depan publik untuk menyuarakan visi dan misi buku saya, lebih menyenangkan daripada bersembunyi di balik ketenaran artis atau selebriti. And that’s why I called this event as a Successful Talk Show! ::
Ow by the way, karena di cover buku GOOD LAWYER ada nama Zara yang tertulis di sana, banyak orang mengira saya Zara. Saya harus memohon maaf dan menjelaskan kepada semua orang bahwa saya bukan Zara, saya Risa (:D) dan bahwa Zara adalah supporter dari buku GOOD LAWYER ini. Surprise juga rasanya mengetahui mereka tidak mengenal tampang Zara yang jauh lebih cantik dan famous daripada saya! *lol... Mungkin Sist Zara harus lebih sering tampil di Medan supaya orang-orang tahu sosok mu, Sist! ;)
Beberapa juga bertanya kepada saya, kenapa nama saya tidak ada di cover buku GOOD LAWYER. Well, ini menjadi masukan yang berarti bagi saya supaya nanti masyarakat tidak merasa dibohongi. Ke depan, nama semua penulis harus saya tulis di depan, karena saya tidak ingin membuat para penggemar Sist Zara bingung dan menuduh saya menipu publik.
Saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada semua pihak yang telah dengan terus menerus menyemangati saya hingga api semangat ini tak pernah padam, Mas Dwi-ku tersayang, Ibu Jenni distributor saya yang baik hati, Judika dan Gramedia crew, serta Mas Indra fotografer saya yang telah begitu cantik mengabadikan moment-moment penting saya. Juga kepada teman-teman baru saya dari Medan, Imelda, Ayu, Desta, Mbak Tila, Pak Edi, Hamdani dan rekan-rekan PERMAHI Medan, dan semua pengunjung Gramedia yang belum sempat berkenalan dengan saya (kalau kebetulan membaca). Saya juga ingin mengucapkan terima kasih buat seseorang yang telah menginspirasi saya dalam berkomunikasi dengan publik. I learned fast from seeing things. Boby Rakhman has inspired me on how to deal with the public. Our way to approach the public is totally different, but his talent and courage taught me on how to deal with any situations. Thanks Boby!
Tak lupa juga terima kasih buat rekan-rekan RHW dan rekan-rekan yang berasal dari Medan tapi tidak tinggal di Medan yang juga telah memberikan dukungan moril yang terus menerus kepada saya. It means a lot to me, All! Thank you so much!
For sure, I’ll return to Medan for my next book. Keep in touch! ;)
Next schedule for the talk show is :
10 May 2009 - Gunung Agung Margo City Depok
16 May 2009 - Bandung
Buat yang berada di wilayah di atas, see you there! ;)
Biasanya persiapan talk show memang sudah diatur dari jauh hari, tapi ide tiba-tiba saya ini tetap mendapat sambutan yang baik dari distributor saya, Ibu Jenni. Persiapanpun dilakukan dalam waktu yang sangat singkat.
Saya tidak kenal siapapun di sana. Begitu tiba di Medan, Mas Dwi langsung mengikuti seminar sementara saya langsung berkoordinasi dengan pihak Gramedia dan satu lagi yang sangat penting, fotografer. Karena saya selalu mendokumentasikan semua kegiatan saya sejak awal, saya merasa harus tetap memiliki dokumentasi untuk talkshow saya di Medan ini. Untunglah saya diperkenalkan kepada seorang fotografer yang handal sehingga moment-moment penting di acara tersebut dapat diabadikan dengan sangat baik.
Awalnya saya sempat pesimis karena kami sama sekali tidak punya waktu untuk mengumumkan mengenai acara ini. Saya hanya mengirimkan sms kepada teman-teman yang saya kenal untuk mengundang teman-teman atau kerabat mereka yang ada di Medan. Saya juga mempergunakan media facebook untuk mengumumkan acara ini, tapi seperti yang sudah-sudah, hehehe… media undangan melalui facebook tidak terlalu efektif.
Tetapi dalam keadaan terjepit memang segala hal harus diupayakan. Meskipun pengunjung yang duduk di kursi yang telah disediakan hanya sedikit, saya justru merasakan suatu tantangan baru. Sebagai penerbit dan penulis baru, saya merasa ‘duduk-duduk saja’ bukanlah hal yang tepat dilakukan untuk menarik minat para pengunjung toko buku. Dan saya sangat percaya bahwa kekuatan berkomunikasi melalui ‘campaign’ adalah hal yang sangat ampuh untuk menarik minat orang mendengarkan. I’m not a celebrity, nor an actress, so who’s gonna see me?
But then, I learnt something from there. The power of your speech would attract people to listen to you. Saya tahu meskipun mereka tidak duduk di kursi yang disediakan, mereka mengamati saya dari kejauhan sambil berdiri di tempat mereka melihat-lihat buku. Tidak hanya kepada yang duduk di hadapan saya komunikasi saya lakukan, akan tetapi saya juga berusaha menjangkau para pengunjung yang berdiri di kejauhan. Hasilnya sangat mengejutkan, mereka mendengarkan ‘campaign’ saya dan ketika saya sapa dari tempat saya berdiri, beberapa dari mereka tersipu malu. Bahkan seorang bapak yang tadinya hanya mencuri-curi pandang dari kejauhan sambil pelan-pelan mendekat dan berpindah-pindah tempat, saya sapa dan kejar! Hihihi…
:: Sukses adalah ketika kita bisa berkomunikasi dengan banyak orang untuk menyusupkan apa yang ingin kita sampaikan kepada mereka. Bagi saya, sukses bukan hanya dilihat dari target penjualan yang tercapai dalam waktu singkat, tapi juga dengan mengetahui apakah misi yang ingin kita capai dalam buku yang kita terbitkan bisa membawa perubahan berarti dalam cara pandang dan pikir seseorang. Dan itu yang telah saya lakukan. At least, menjadi diri sendiri dan tampil di depan publik untuk menyuarakan visi dan misi buku saya, lebih menyenangkan daripada bersembunyi di balik ketenaran artis atau selebriti. And that’s why I called this event as a Successful Talk Show! ::
Ow by the way, karena di cover buku GOOD LAWYER ada nama Zara yang tertulis di sana, banyak orang mengira saya Zara. Saya harus memohon maaf dan menjelaskan kepada semua orang bahwa saya bukan Zara, saya Risa (:D) dan bahwa Zara adalah supporter dari buku GOOD LAWYER ini. Surprise juga rasanya mengetahui mereka tidak mengenal tampang Zara yang jauh lebih cantik dan famous daripada saya! *lol... Mungkin Sist Zara harus lebih sering tampil di Medan supaya orang-orang tahu sosok mu, Sist! ;)
Beberapa juga bertanya kepada saya, kenapa nama saya tidak ada di cover buku GOOD LAWYER. Well, ini menjadi masukan yang berarti bagi saya supaya nanti masyarakat tidak merasa dibohongi. Ke depan, nama semua penulis harus saya tulis di depan, karena saya tidak ingin membuat para penggemar Sist Zara bingung dan menuduh saya menipu publik.
Saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada semua pihak yang telah dengan terus menerus menyemangati saya hingga api semangat ini tak pernah padam, Mas Dwi-ku tersayang, Ibu Jenni distributor saya yang baik hati, Judika dan Gramedia crew, serta Mas Indra fotografer saya yang telah begitu cantik mengabadikan moment-moment penting saya. Juga kepada teman-teman baru saya dari Medan, Imelda, Ayu, Desta, Mbak Tila, Pak Edi, Hamdani dan rekan-rekan PERMAHI Medan, dan semua pengunjung Gramedia yang belum sempat berkenalan dengan saya (kalau kebetulan membaca). Saya juga ingin mengucapkan terima kasih buat seseorang yang telah menginspirasi saya dalam berkomunikasi dengan publik. I learned fast from seeing things. Boby Rakhman has inspired me on how to deal with the public. Our way to approach the public is totally different, but his talent and courage taught me on how to deal with any situations. Thanks Boby!
Tak lupa juga terima kasih buat rekan-rekan RHW dan rekan-rekan yang berasal dari Medan tapi tidak tinggal di Medan yang juga telah memberikan dukungan moril yang terus menerus kepada saya. It means a lot to me, All! Thank you so much!
For sure, I’ll return to Medan for my next book. Keep in touch! ;)
Next schedule for the talk show is :
10 May 2009 - Gunung Agung Margo City Depok
16 May 2009 - Bandung
Buat yang berada di wilayah di atas, see you there! ;)
Dear Friends.
GOOD LAWYER book will be officially launched on March 11, 2009 at 03.00 - 05.00 PM. Venue will be at Planet Hollywood Jakarta.
The book launching will be attended by :
1. Zara Zettira ZR - Professional Writer
2. Hendardi - Aktifis HAM
3. Todung Mulya Lubis (our commentator for the book) - Legal Expert
4. Wimar Witoelar (our endoser and commentator for the book)
5. Prof. Dr. Hafid Abbas - Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Hukum dan HAM (tentative)
6. Ratih Sanggarwati
7. Arzetti Bilbina
8. Ade Andrini - Singer
9. Bobby Tince - MC
10. Jamal Hasan - Host
11. Young artists from ZEMA Management (M. Fardan, Tiara, Fendi Chow)
Detail Agenda :
1. Opening
2. Song by - Ade Andrini
3. Talk Show – Zara Zettira ZR and Rose Heart Writers
4. Photo Session
5. Book Comments from Legal Expert – Mr. Todung Mulya Lubis
6. Quiz and Door Prizes
• SOGO GIFT CARD for Rp. 3,000,000 (Three Million Rupiah)
sponsored by The Indonesian Law Institute (ILI)
• 3 Vouchers to stay at Zara’s Villa in Bali for 3 days 2 nights
sponsored by Zara Zettira ZR
• 5 handphones
sponsored by Prihartono & Partners - Law Offices
7. Song by - Ade Andrini
8. Interview Session & Book Signing
This event will be covered by national TV stations and printed media.
Thank you,
Risa Amrikasari
GOOD LAWYER book will be officially launched on March 11, 2009 at 03.00 - 05.00 PM. Venue will be at Planet Hollywood Jakarta.
The book launching will be attended by :
1. Zara Zettira ZR - Professional Writer
2. Hendardi - Aktifis HAM
3. Todung Mulya Lubis (our commentator for the book) - Legal Expert
4. Wimar Witoelar (our endoser and commentator for the book)
5. Prof. Dr. Hafid Abbas - Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Hukum dan HAM (tentative)
6. Ratih Sanggarwati
7. Arzetti Bilbina
8. Ade Andrini - Singer
9. Bobby Tince - MC
10. Jamal Hasan - Host
11. Young artists from ZEMA Management (M. Fardan, Tiara, Fendi Chow)
Detail Agenda :
1. Opening
2. Song by - Ade Andrini
3. Talk Show – Zara Zettira ZR and Rose Heart Writers
4. Photo Session
5. Book Comments from Legal Expert – Mr. Todung Mulya Lubis
6. Quiz and Door Prizes
• SOGO GIFT CARD for Rp. 3,000,000 (Three Million Rupiah)
sponsored by The Indonesian Law Institute (ILI)
• 3 Vouchers to stay at Zara’s Villa in Bali for 3 days 2 nights
sponsored by Zara Zettira ZR
• 5 handphones
sponsored by Prihartono & Partners - Law Offices
7. Song by - Ade Andrini
8. Interview Session & Book Signing
This event will be covered by national TV stations and printed media.
Thank you,
Risa Amrikasari
Catatan "GOOD LAWYER" - A Collection of Law Stories
::Dialog Interaktif GOOD LAWYER - Bandar Lampung 23 Mei 2009::24 Mei 2009
:: GOOD LAWYER Talk Show in Medan 2 May 2009 ::04 Mei 2009
:: INFO GRAND LAUNCHING - GOOD LAWYER BOOK 11 MARCH 2009 ::09 Maret 2009
:: AVAILABLE NOW – GOOD LAWYER Book – ENGLISH VERSION ::28 Februari 2009
:: Iseng-Iseng Berhadiah ::13 Februari 2009
:: CERDAS HUKUM LEWAT CERITA ::08 Juni 2009
:: Updates - GOOD LAWYER hadir di toko-toko buku terdekat anda ::05 Februari 2009
:: Kalau Bisa "Ringan" Kenapa Mesti "Berat"?23 Januari 2009
:: GOOD LAWYER – Hitting the stand this February! ::19 Januari 2009
:: Cerita di balik lahirnya buku GOOD LAWYER ::17 Januari 2009

















