Centre for Orangutan Protection
COP is a direct - action group to protect orangutan and its habitat. COP beraksi langsung melindungi orangutan dan habitatnya.
Video

2 dari 7 videoLihat Semua

6:19 Ditambahkan sekitar 2 minggu yang lalu
9:21 Ditambahkan sekitar 9 bulan yang lalu
Belum ada yang menambahkan video penggemar.
Acara

8 acara yang telah lewatLihat Semua

 

Centre for Orangutan Protection mengundang para pecinta tanah air Indonesia untuk melindungi orangutan dan habitatnya di Kalimantan sebagai

ASISTEN LAPANGAN / FIELD ASSISTANT.

Jika anda:
berbadan sehat dan terbiasa berpetualang di alam bebas.
pemberani, mandiri dan mampu bekerja sama dalam tim.
berumur 23 - 30 tahun.
lebih disukai yang terbiasa hidup dengan komputer, internet dan bahasa English.

Kirimkan lamaran anda, paling lambat tanggal 11 Januari 2010 jam 12.00 WIB, ke:
seto.wibowo@cop.or.id

Ujian masuk akan dilaksanakan pada tanggal 13,14,15 Januari 2010. Para kandidat yang diterima akan dikontrak untuk masa kerja 1 tahun dan dapat diperpanjang setelahnya.

Centre for Orangutan Protection adalah kelompok yang beraksi langsung untuk menghentikan dan mencegah perusakan habitat orangutan di Kalimantan. Kami menyelidiki, mempublikasikan dan jika perlu berkonfrontasi melawan kejahatan kehutanan. Informasi lebih detail mengenai kami, silakan kunjungi: www.cop.or.id





Just as orangutan supporters all around the world are celebrating Orangutan Awareness Week with bazaars, rallies, exhibitions, and other events to build up public support for saving orangutans, these very same orangutans are being chased down and murdered in Kalimantan as a direct impact of deforestation and land clearing for oil palm plantations.

“Public awareness has risen fast. Tens of thousands of people worldwide have joined together in supporting various orangutan conservation organizations. COP has been working with nearly 3000 supporters who are sincerely committed to volunteering or donating tools and funds to help orangutans. Efforts to protect orangutans are proving very difficult, however. The Ministry of Forestry’s concern for this important issue is almost ZERO. Despite the fact that many actions have been taken in the field to promote orangutan conservation, the Ministry refuses to hear us out. If they truly wanted to do so, the Ministry of Forestry could use its authority to stop the clearing of the orangutans’ habitat and to allocate forests to release them back into the wild,” said Hardi Baktiantoro, Orangutan Campaigner.

At this very moment, there are at least 1,200 orangutans stuck in various Rehabilitation Centers-- without any clear future. Land surveys to release them have been conducted, but it is almost impossible to find safe land because almost every remaining forest has been sold to palm oil and timber companies. In the meantime, orangutans are victimized on a daily basis due to the non-stop deforestation. The genocide is taking place everyday—yet not a single person responsible for the destruction has been taken to court and held accountable. The Minister of Forestry is not doing a single thing to fulfill his responsibility and put an end to the crimes and cruelties being perpetrated in the forest.

The Ministry of Forestry’s complete lack of concern has not only threatened the continuity of the life of orangutans and millions of other Indonesian species, but also the life of many Dayak tribes in Kalimantan.

“I came to Jakarta to call on the President of the Republic of Indonesia and make him aware that our forest is almost gone due to the heavy destruction being carried out by PT Nabatindo Karya Utama and PT Windu Nabatindo Lestari. The forest gives us life. If it is destroyed then what will we eat? Should we work as laborers for the company who has taken the land we used to own?” asked Christopel Sahabu, a senior member of a Dayak tribe from Sampit, Central Kalimantan.

Christopel Sahabu and his family have been cultivating the forest in Tumbang Koling village, Kotawaringin Timur Regency, since 1972. At this very moment, palm oil and timber corporations have put up signboards showing a new path for excavators to flatten the forest. Orangutans and 11 other types of rare mammals that are protected by the Law-- including sunbears, gibbons, clouded leopards, slow lorises and tarsius-- will be massacred within days if the Ministry of Forestry does not take any measures immediately to stop it.

A similar situation is occurring along the Katingan River in Kasongan Regency, Central Kalimantan. The lives of at least 1,500 orangutans and the food and water of 5,000 inhabitants of Tumbang Tura, Tumbang Tanjung and Tumbang Lahang villages are being threatened by the expansion of 15 palm oil companies, including Makin Group and TSH Berhad from Malaysia. In the vicinity of Gunung Palung National Park in Central Kalimantan, the Centre for Orangutan Protection had to evacuate orangutans from the forest destroyed by the companies PT CUS and First Resources Ltd.

Orangutans are the only Great Apes in Asia, and they are fully protected under Indonesian Law. They receive an exceptional amount of attention from animal lovers around the world, yet the Ministry of Forestry’s complete lack of concern has pushed these peaceful, innocent orangutans to the brink of extinction. Where is the justice?

“If this is the best we can do to the closest kin of humans, then what will we offer to millions of other species?” asked Hardi Baktiantoro, in the street protest with the Dayak indigenous people in the Jakarta. Take note: The villagers are wearing traditional costumes and dancing the war dance.



Further information please contact:
Hardi Baktiantoro
mobile : 08121145911
email : orangutan@indosat.net.id

Sadewa
mobile : 08121149911
email : sadewa@cop.or.id

Centre for Orangutan Protection acts on the front lines to stop and prevent cruelty and crimes against orangutans. We perform investigation, documentation, exposures and confront the forest criminals if needed. Visit us at our website: www.cop.or.id

Jakarta - Centre for Orangutan Protection (COP). Pada saat para pecinta orangutan sedang merayakan Pekan Peduli Orangutan dengan berbagai bazar, demonstrasi, pameran dan beragam kegiatan lainnya untuk membangun dukungan publik di seluruh dunia secara serentak minggu ini, orangutan justru terus terbantai di Kalimantan sebagai dampak langsung dari pembabatan hutan untuk kelapa sawit.

“Kesadaran masyarakat meningkat pesat. Ribuan orang mendaftar menjadi pendukung berbagai organisasi konservasi orangutan. Untuk COP saja, pendukungnya mencapai lebih dari 2800 orang. Mereka dengan tulus hati berkomitmen untuk membantu sebagai sukarelawan hingga menyumbang peralatan dan dana. Ironisnya, upaya perlindungan orangutan seperti terus membentur tembok karena kesadaran Departemen Kehutanan bisa dibilang nihil. Padahal, secara teknis di lapangan, seluruhnya sudah dikerjakan dan dibiayai oleh organisasi - organisasi konservasi orangutan. Yang perlu dilakukan Departemen Kehutanan hanyalah menggunakan wewenangnya untuk menghentikan pembabatan habitat orangutan dan menunjuk kawasan hutan untuk pelepasliaran,” kata Hardi Baktiantoro, Orangutan Campaigner.

Saat ini, setidaknya 1200 orangutan terjebak tanpa masa depan yang jelas di berbagai Pusat Rehabilitasi. Survey kawasan untuk pelepasliaran terus dilakukan, namun hampir mustahil mendapatkannya karena hampir seluruh hutan sudah dijual ke berbagai perusahaan. Sementara itu, korban orangutan terus berjatuhan karena hutan - hutan terus dibabat untuk perkebunan kelapa sawit. Genocide sedang berlangsung. Hingga hari ini tidak satupun pelakunya yang dihukum. Departemen Kehutanan tetap saja tidak menjalankan kewajibannya untuk menghentikan dan mencegah kejahatan dan kekejaman itu.

Nihilnya kesadaran Departemen Kehutanan tidak saja mengancam kelangsungan hidup orangutan dan jutaan spesies satwa liar Indonesia, tetapi juga masyarakat Dayak di Kalimantan.

“Saya datang ke Jakarta untuk berseru kepada Presiden Republik Indonesia, bahwa hutan kami terancam musnah dibabat oleh PT. Nabatindo Karya Utama dan PT. Windu Nabatindo Lestari. Hutan itu menghidupi kami. Jika itu harus dibabat, kami mau makan apa. Apakah kami harus menjadi kuli perusahaan di atas tanah yang dulunya kami miliki?” kata Christopel Sahabu, tetua adat masyarakat Dayak yang datang dari Sampit - Kalimantan Tengah.

Sejak tahun 1972, Christopel Sahabu dan keluarganya mengelola hutan di desa Tumbang Koling kabupaten Kotawaringin Timur. Saat ini perusahaan sudah memasang tanda - tanda jalur baru bagi excavator untuk meratakan hutan itu. Orangutan dan 11 jenis mamalia langka dan dilindungi Undang - Undang seperti beruang, owa, macan dahan dan tarsius akan terbantai habis dalam beberapa hari kedepan bila Departemen Kehutanan tidak segera bertindak. Situasi yang sama juga terjadi di sepanjang aliran sungai Katingan di kabupaten Kasongan - Kalimantan Tengah. Setidaknya 1500 orangutan terancam dan 5000 penduduk desa Tumbang Tura, Tumbang Tanjung dan Tumbang Lahang terancam kehilangan sumber penghidupannya oleh ekspansi 15 perusahaan kelapa sawit, diantaranya adalah Makin Group dan TSH Berhard dari Malaysia. Di sekitar Taman Nasional Gunung Palung - Kalimantan Barat, Centre for Orangutan Protection terpaksa harus mengevakusi orangutan dari hutan yang dibabat oleh PT. CUS dan First Resources Ltd.

Orangutan adalah salah satu jenis satwa liar yang paling dilindungi Undang - Undang di Indonesia. Satu - satunya kera besar di Asia ini juga mendapatkan perhatian lebih dari para pecinta binatang di seluruh dunia. Nihilnya kesadaran Departemen Kehutanan telah menjadikan nasib orangutan sebagai ironi: tidak terlindungi dari kejahatan dan kekejaman.

“Jika ini yang terbaik yang bisa kita berikan pada kerabat terdekat manusia, lalu apa yang bisa kita tawarkan pada jutaan species lainnya?” kata Hardi Baktiantoro dalam demonstrasi bersama masyarakat Dayak di Bundaran Hotel Indonesia - Jakarta. Mereka mengenakan pakaian adat dan memainkan tarian perang.



Informasi lebih lanjut harap menghubungi:
Hardi Baktiantoro
HP : 08121145911
email : orangutan@indosat.net.id

http://orangutanprotection.com/indexinanew.php?lang=ina

a young orangutan goes nowhere after the forest cleared. Her mother probably killed by workers.
Lihat catatan lainnya